Kongres Bahasa Daerah Nusantara I: Peranan Bahasa Daerah Nusantara dalam Mengokohkan Jati Diri Bangsa

Bandung – Kita harus melestarikan bahasa daerah, jangan sampai jumlah bahasa daerah yang terancam punah bertambah karena tidak ada lagi generasi muda yang mau memakai bahasa daerah. Hal itu, disampaikan Dedi Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat, saat membuka Kongres Bahasa Daerah Nusantara I yang diselenggarakan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika No. 65, Bandung, Selasa, 2 Agustus 2016.

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar mengingatkan kembali amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, khususnya Pasal 42. Kekhawatiran Wagub Dedi Mizwar tentang semakin sedikitnya generasi muda berbahasa daerah dijelaskan oleh Dadang bahwa berdasarkan Undang-Undang itu, pemerintah daerah diamanati untuk mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dalam kaitan dengan itu, “Badan Bahasa yang mempunyai Unit Pelaksana Teknis di 30 provinsi selama ini bekerja sama dengan pemerintah daerah sudah berupaya menjalankan amanat Undang-Undang tersebut, antara lain, dengan menyusun berbagai kamus bahasa daerah dan pendampingan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, “ ujar Dadang.

Pembicara yang tampil pada kongres itu, antara lain, Dadang Sunendar, Ajip Rosidi, Remy Sylado, Multamia RMT Lauder, Mahsun MS, Alice Eastwood, Emi Emilia, M. Rapitang, Antonia Soriente, Gufran Ali Ibrahim, Yus Rusyana, dan C.W. Watson.

Kongres yang dilangsungkan selama tiga hari itu, Selasa—Kamis (2—4 Agustus 2016) didukung juga oleh Balai Bahasa Jawa Barat. Tema yang diusung adalah “Peranan Bahasa Daerah Nusantara dalam Mengokohkan Jati Diri Bangsa” dan peserta yang terlibat dalam perhelatan ini terdiri atas para pakar, seniman, mahasiswa, guru, wartawan, pemuda, birokrat dan pemerhati bahasa daerah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. (iw/td)

 

Uji Keterbacaan UKBI: Upaya Meningkatkan Kompetensi Pemahaman Pedoman UKBI

Jakarta — Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) merupakan salah satu program unggulan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Terkait dengan hal itu, Pusat Pengembangan dan Pelindungan (Pusbanglin), Badan Bahasa menyelenggarakan kegiatan Uji Keterbacaan UKBI pada tanggal 6—13 Agustus 2016 di kantor Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keterbacaan atau pemahaman publik atas Pedoman UKBI.

UKBI merupakan tes standar untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia penutur bahasa Indonesia baik penutur jati maupun asing yang dilakukan secara lisan dan tertulis. Pengujian UKBI terdiri dari lima sesi, yaitu tes mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Guna melaksanakan pengujian UKBI, perlu disusun pedoman UKBI yang memiliki hasil uji tingkat keterbacaan yang tinggi. Oleh karena itu, “Uji Keterbacaan UKBI penting dilakukan, karena ketika satu naskah disampaikan ke publik atau masyarakat, naskah tersebut harus bermanfaat dan sesuai dengan tujuannya terutama naskah-naskah yang berkaitan dengan pembelajaran atau pengujian,” ujar Atikah Solihah, M.Pd., Kepala Subbidang Proses Pembelajaran, Bidang Pengembangan, Pusbanglin, Kamis, 11 Agustus 2016.

“Sasaran utama Uji Keterbacaan UKBI adalah guru, mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dosen, dan para pekerja profesional. Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Bahasa mengundang 150 orang dari kalangan guru (SD, SMP, SMA), mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dan dosen untuk menjadi peserta kegiatan Uji Keterbacaan UKBI dengan pembagian 25 orang peserta setiap harinya selama enam hari,” ungkap Atikah.

Selanjutnya, Atikah juga mengatakan bahwa penilaian Uji Keterbacaan UKBI dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat keterbacaan rendah, jika nilainya 20%. Tingkat keterbacaan sedang, jika nilainya 20—70%, dan >70% tergolong tingkat keterbacaan tinggi. Penilaian Uji Keterbacaan UKBI pun didasarkan pada hasil penghitungan metode Uji Rumpang dan Uji Deskriptif dengan Skala Likert.

“Jadi, dengan menggunakan dua metode ini, akan didapatkan gambaran keterbacaan yang lebih utuh dari naskah Pedoman UKBI yang sudah disusun,” harap Atikah.

Contoh metode Uji Rumpang, jika ada tujuh bab dalam suatu naskah, maka akan diambil satu bagian dari setiap bab untuk dirumpangkan atau dikosongkan, dan peserta diminta mengisi bagian kosong tersebut dengan kata yang benar. Sedangkan metode Uji Deskriptif dengan Skala Likert, contohnya, jika ada sepuluh butir soal diberikan pilihan A, B, C, dan D, peserta diminta untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut dan menjelaskan mengapa mereka memilihnya. (pad)

 

Badan Bahasa Gelar Bimbingan Teknis Kebahasaan bagi Insan Media Massa

Jakarta—Dalam rangka meningkatkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Kebahasaan bagi Insan Media Massa. Seperti di tahun sebelumnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi insan media untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam berbahasa Indonesia secara baik dan benar, serta dapat menggunakan bahasa Indonesia secara cermat, apik, dan santun.

Kegiatan penyegaran keterampilan berbahasa Indonesia bagi insan media massa itu dilaksanakan selama tiga hari,  tanggal 10—12 Agustus 2016  di Hotel Park, Cawang, Jakarta Timur.

Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Imbrahim, M.S. mewakili Kepala Badan Bahasa, membuka acara tersebut. Dalam materi sajiannya, Gufron menjelaskan bahwa media massa merupakan salah satu dari sekian banyak mitra yang turut membantu pengembangan dan pembinaan bahasa. “Badan Bahasa bersama mitra (media massa) bergiat bersama-sama memartabatkan bahasa kita” kata Gufran.

Menurut Gufran, fungsi bahasa Indonesia sangatlah penting karena menjadi alat pemersatu atau juga merupakan perekat bangsa. “kita dikaitkan dengan satu bahasa, alat penting yang lebih penting lagi membuat kita merasa sebagai bangsa Indonesia dengan ribuan etnik” ucapnya.

Pada saat itu, Gufran juga menyebutkan moto dari Pusat Pembinaan, Badan Bahasa, yaitu “Cermat, Apik, dan Santun Berbahasa” atau yang disingkat menjadi CAS. “ada dua misi penting yaitu meningkatkan dan mengembangkan, memastikan kecermatan, memastikan keapikan, memastikan kesantunan terjaga” tegasnya

Sementara itu, dalam laporan ketua penyelenggara yaitu Drs. Mustakim, M.Hum., Kepala Bidang Pemasyarakatan mengatakan bahwa salah satu tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan mutu bahasa para insan media massa. “bahasa media massa sering dijakdikan rujukan masyarakat, tentu mutu bahasa yang digunakan harus benar-benar layak untuk dirujuk. Untuk itulah, media massa menjadi sasaran prioritas dalam meningkatkan mutu bahasa” jelas Mustakim.

Berkaitan dengan hal tersebut, Mustakim juga menegaskan bahwa media massa memiliki peran yang sangat penting proses mengembangkan dan membina bahasa Indonesia, sehingga Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa melalui Pusat Pembinaan, telah mengadakan kegiatan bimbingan teknis semacam itu pada lima tahun terakhir secara terus-menerus. “Selanjutnya dilaporkan kepada Bapak bahwa, kegiatan Penyegaran Berbahasa bagi Insan Media Massa sudah tahun ke lima dilakukan secara terus-menerus” ujar Mustakim.

Pada sesi akhir, Gufran kembali menegaskan bahwa status para insan media massa di mata Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa adalah sebagai mitra yang turut membantu dalam melakukan pengembangan  dan pembinaan bahasa. “Menurut hemat kami, sebenarnya teman-teman di media massa-lah yang sebagai pemulia-pemulia bahasa Indonesia” tutur Gufron.

Kegiatan itu menghadirkan tujuh orang narasumber, antara lain, (1) Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), (2) Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S. (Kepala Pusat Pembinaan), (3) Drs. Mustakim, M. Hum. (Kepala Bidang Pemasyarakatan), (4) Dra. Meity Takdir Qodratillah, M.Hum. (Penyuluh Kebahasaan), (5) Drs. S.S.T. Wisnu Sasangka, M.Pd. (Peneliti Bahasa), (6) Drs. Suladi, M.Pd. (Kepala Subbidang Penyuluhan), (7) Willy Pramudya (Praktisi Media Massa, AJI). Sementara itu, peserta kegiatan itu berjumlah 50 orang yang terdiri atas redaktur, wartawan, dan editor dari berbagai media massa cetak. (ema/nav)

 

Bangun Apresiasi Sastra, Badan Bahasa dan Majalah Horison Jalin Kerja Sama

Jakarta – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Dadang Sunendar menerima kunjungan resmi Majalah Horison Indonesia yang dipimpin oleh Sastrawan Taufiq Ismail di Ruang Rapat Gaura, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 11 Agustus 2016.

Kunjungan tersebut terkait kerja sama yang akan dilakukan oleh Majalah Horison Indonesia dengan Badan Bahasa dalam upaya menumbuhkan apresiasi sastra Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Dadang Sunendar menyampaikan selamat kepada Majalah Horison untuk ulang tahunnya yang ke-50, dan selamat atas peluncuran Majalah Horison dalam jaringan (daring).

Terkait kerja sama yang akan dijajaki, Dadang memaparkan bahwa, “Tahun ini Badan Bahasa ditugasi dalam pengayaan bahan literasi terkait dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Kami telah menyiapkan 170 judul cerita rakyat untuk mendukung hal itu,” papar Dadang.

“Harapan kami, apabila dimungkinkan bekerja sama dengan Majalah Horison untuk menyiapkan bahan bacaan sastra untuk anak didik kita. Dan juga kerja sama terkait program penerjemahan, apabila ada karya sastra yang ingin diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Selain itu, kerja sama karya sastra untuk bahan ajar BIPA,” tambah Dadang.

“Selama 66 tahun lamanya, sastra ini di dalam pendidikan kita tidak diajarkan seperti seharusnya,” tutur Taufiq mengawali pembicaraan. Kami perbandingkan pengajaran sastra di SMA di 13 negara termasuk Indonesia, Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku,” ucapnya.

Menurutnya, hal ini sangat bertolak belakang dengan keadaan pada masa Hindia Belanda, yaitu 25 judul buku sastra yang wajib dibaca dalam tiga tahun, dan dengan pola pengajaran seperti ini lahirlah para pemimpin bangsa, seperti Soekarno, Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Soemitro Djoyohadikusumo, Mohamad Natsir, dan seterusnya. “Tokoh-tokoh ini meskipun fasih berbahasa Belanda dan Inggris tetapi tetap nasionalis dan tidak menjadi antek Belanda, mereka memperjuangkan dan memproklamasikan kemerdekaan,” kata Taufiq penuh semangat.

“Buku sastra itu bukan saja wajib dibaca, tetapi disediakan di perpustakaan sekolah, dan saat ini yang diajarkan di SMA Indonesia terkait sastra adalah ringkasan. Jadi, novelnya Marah Rusli itu bukannya dibaca sampai tamat, tetapi hanya baca ringkasan atau sinopsisnya saja, “ungkapnya.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan bahwa pelajaran mengarang di negara lain itu setiap minggu satu karangan, bahkan di beberapa negara ada pelajaran mengarang itu setiap hari. Di Indonesia, pada masa Hindia Belanda diwajibkan seminggu sekali mengarang. “Tetapi keadaan sekarang di banyak sekolah, di sekolah-sekolah yang hebat, 5—6 kali mengarang dalam setahun, tetapi di mayoritas SMA di Indonesia yang jumlahnya 25.000 sekolah, pelajaran mengarang itu cuma sekali setahun yaitu ketika mau naik kelas. Ada ujian naik kelas mengarang, dan judulnya dari Sabang sampai Merauke, judulnya sama “Berlibur di Rumah Nenek”, “kata Taufiq lirih.

Majalah Horison adalah majalah bulanan kesastraan yang paling lama hidupnya dalam sejarah sastra Indonesia, yaitu sejak tahun 1966. Ketika terbit pertama kali pada bulan Juli 1966, majalah itu tidak dapat dipisahkan dari suasana dan semangat kebudayaan pada tahun itu. Dasar diterbitkannya majalah ini adalah semangat untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan mencipta.

Majalah ini dibiayai oleh Yayasan Indonesia yang didirikan tanggal 31 Mei tahun 1966. Pengasuh majalah ini terdiri atas Mochtar Lubis (Penanggung Jawab); Dewan Redaksi: Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin (Arief Budiman), dan D.S. Moeljanto.

Pada tahun-tahun pertama terbit, majalah ini masih banyak memuat karya sastra yang berhubungan dengan situasi politik waktu itu, misalnya sajak-sajak “demonstran” dan karya-karya yang menentang kezaliman kekuasaan otoriter Orde Lama. Namun, setelah itu muncul penulis baru yang banyak di antaranya berasal dari lingkungan perguruan tinggi sehingga corak tulisan lebih mengarah kepada niat pembaharuan. Sampai tahun 1974—1975 Horison penuh dengan karya avant garde yang dikerjakan, antara lain, oleh Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Danarto, Ikranegara, Sides Sudyarto. Setelah itu, makin sedikit karya mereka yang muncul sehingga makin santer isu merosotnya mutu majalah itu.

Dari tahun 1966 sampai tahun 1975, majalah ini mengalami zaman emas karena merupakan majalah sastra satu-satunya yang berwibawa. Pemuatan karangan pada majalah ini seolah-olah merupakan pengakuan keberadaan sastrawan. Dengan demikian Horison sebenarnya menampung tumbuhnya sebuah generasi baru angkatan sastra. Namun, pada tahun 1980-an majalah ini sudah ditinggalkan oleh kebanyakan penulis itu. Kemudian muncullah generasi penulis baru yang kebanyakan dilahirkan pada tahun 1950-an.

Majalah Horison versi cetak sejak bulan Juli 2016 telah resmi dihentikan, dan untuk selanjutnya terbit dalam bentuk daring. (an)

 

Seminar Leksikografi Indonesia: Ajang Memahami Salah Satu Ilmu Linguistik Terapan

Jakarta— Seminar Leksikografi Indonesia merupakan wadah bagi para leksikograf dan praktisi kamus untuk saling berkomunikasi, menjalin kerja sama, dan bertukar informasi terkini tentang teori leksikografi dan praktik peyusunan kamus mutakhir.

“Banyak hal yang dapat diperoleh dari kegiatan ini, “ ujar Dr. Dora Amalia, Ketua Panitia yang juga Kepala Bidang Pengembangan, Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat memberikan pengantar pada penutupan Seminar Leksikografi Indonesia di Hotel Santika TMII, Jakarta, Jumat, 29 Juli 2016.

Dora mengatakan bahwa selain mendapatkan transfer ilmu atau penelitian terkait tema dan subtema seminar, peserta juga mendapatkan pelatihan perkamusan melalui Bengkel Leksikografi oleh narasumber yang telah berpengalaman di bidangnya yaitu Deny Arnos Kwary, Ph.D. (Universitas Airlangga) dan David Moeljadi (WordNet Bahasa/Nanyang Technological University, Singapura).

Saat ini, Badan Bahasa sedang menyusun kamus pemelajar tingkat mahir dan ditargetkan akan selesai tahun depan. Selain itu, Badan Bahasa juga sedang menyiapkan penyusunan korpus Indonesia yang berguna bagi keperluan penelitian, penyusunan kamus, dan pembelajaran bahasa.

“Untuk penyusunan korpus, target tahun ini 10.000.000 kata, tahap pertama ini kami (Badan Bahasa) bekerja sama dengan Universitas Airlangga dan tidak tertutup kemungkinan pada tahun-tahun berikutnya, kerja sama ini akan diperluas kepada instansi-instansi lain terutama kalangan akademisi, “ ungkap Dora.

Korpus ini dirancang berdasarkan penentuan komposisinya, “Jadi tidak hanya jumlah korpus yang besar tetapi komposisinya juga harus baik sehingga bisa mewakili seluruh fakta kebahasaan yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan dapat terus dikembangkan, karena targetnya adalah korpus yang berskala nasional, “ lanjut Dora.

Seminar ini juga diharapkan dapat merintis sebuah asosiasi yang dapat mewadahi para leksikograf yang ada di Indonesia sehingga leksikografi menjadi sebuah ilmu yang berkembang dengan baik demi terciptanya kamus-kamus berkualitas. Dan atas kesepakatan bersama peserta seminar, disepakati nama asosiasi tersebut adalah Persatuan Pekamus Seluruh Indonesia disingkat Perkamusi.

Terkait pesan dan kesan terselenggaranya seminar ini, Kristian, peserta dari Universitas Sam Ratulangi, Sulawesi Utara menuturkan bahwa “Ada banyak ilmu yang didapat dari para narasumber, ilmu yang bagi kami itu luar biasa, karena kalau kembali ke daerah biasanya ada banyak keterbatasan di daerah, sehingga hal yang baru itu menjadi sesuatu yang bisa membantu ketertinggalan di daerah, “ tuturnya.

Ia pun mengapresiasi panitia yang menurutnya sangat membantu dalam acara ini, “Kami diberi kenyamanan, sehingga ada yang merasa kalau ditambah lagi acaranya, kami bersedia untuk tinggal lebih lama, “ ujarnya, disambut derai tawa semua peserta yang hadir.

Sementara itu, peserta dari Brunei Darussalam, Dayang Hajah Norati Binti Bakar menyampaikan kebahagiaannya dapat belajar dan berbagi ilmu bersama, serta dapat mengenal leksikograf dari Indonesia. (an/nav)

Dokumen hasil rekomendasi Seminar Leksikografi Indonesia dapat dilihat pada tautan di bawah

 

Mendikbud Bersilaturahmi dengan Pejabat di Lingkungan Kemendikbud

Jakarta—Bertempat di Ruang Sidang Graha Utama, Gedung Ki Hajar Dewantara, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mendikbud, Prof. Dr. Muhadjir Effendy bersilaturahmi sekaligus memperkenalkan diri dengan pejabat eselon I, II, III di lingkungan Kemendikbud, Jumat, 29 Juli 2016.

Di hadapan ratusan pejabat yang hadir, Mendikbud yang baru, Prof. Dr. Muhadjir Effendy yang berasal dari Malang, Jawa Timur itu bercerita tentang latar belakangnya sebagai seorang akademisi. “Saya dosen  di Universitas Negeri Malang (UNM), kemudian mengabdi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tetapi, Januari kemarin saya mengakhiri masa jabatan sebagai rektor di UMM. Saya di UMM sejak selesai sarjana, kemudian sebagai pembantu rektor III selama 12 tahun, setelah itu menjadi  pembantu rektor I selama empat tahun, dan menjadi rektor selama 16 tahun, “ tuturnya.

Ia juga bercerita tentang amanat yang diberikan oleh Presiden kepadanya. “Kemarin saat bertemu dengan Pak Presiden ada dua hal yang harus saya perhatikan, minimal dalam waktu dekat ini. Pertama yaitu mengatasi masalah kesenjangan, dan yang kedua adalah masalah ketenagakerjaan.

“Pertama, kita (Kemendikbud) harus meningkatkan, dan mempertajam pendidikan vokasi, dan kedua adalah harus segera menyelesaikan Program Kartu Indonesia Pintar. Karena itu dalam waktu dekat saya mohon bantuan ke semuanya agar kita bekerja keras merealisasikan kedua hal itu, terutama yang kedua,  karena itu penting untuk intervensi kesenjangan masyarakat yang tidak mendapatkan akses pendidikan secara baik, “ tegas Muhadjir.

“Vokasi juga tidak hanya monopoli SMK seperti yang dipahami orang umum. Sebetulnya di bidang pendidikan nonformal itu tak kalah padatnya, karena itu, kita harus mengeksplorasi, bahkan tenaga kerja juga termasuk dalam budaya, karena terkait budaya etos kerja, “ gagasnya.

Selanjutnya, Muhadjir juga bercerita tentang aktivitasnya di ormas terbesar ke-2 di Indonesia yaitu Muhammadiyah. “Saya memang aktif di Muhammadiyah. Jadi sekarang saya menjabat sebagai salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan kebetulan saya membidangi pendidikan, dari pendidikan dasar menengah hingga pendidikan tinggi, kemudian lembaga seni budaya dan olahraga, serta pengembangan pondok pesantren, “ ungkapnya.

“Ada surat kabar yang menerangkan bahwa kelemahan saya adalah tidak memiliki pengalaman birokrasi, dan itu memang betul. Karena itu saya akan belajar keras, mungkin 1 – 2 bulan, “ tegas Muhadjir.

Selanjutnya, Muhadjir mengatakan bahwa kelemahan lainnya adalah dalam hal menghafal nama. “Karena itu, saya meminta maaf jika nanti tidak kenal satu persatu. Tetapi kemarin saya sudah sampaikan di eselon I, hal ini ada untungnya karena salah satu prinsip birokrasi itu harus ada hubungan yang impersonal, itu adalah syarat birokrasi, “ ujarnya.

“Jadi saat berhubungan birokrasi dengan seseorang, kita tidak perlu tanya siapa, nama siapa, dia dari mana, tetapi dia melakukan fungsi apa, dalam posisi apa, dan dalam hubungan apa dengan saya. Itu menjadi persyaratan birokrasi yang sehat. Sehingga tidak terjadi hubungan interpersonal, ” jelas Muhadjir.

Terkait posisinya sekarang, Muhadjir mengatakan bahwa dirinya bukan orang yang berbahagia menggantikan Pak Anies. “Dia (Anies Baswedan) saya anggap adik saya, dan saya sudah berhubungan baik dengan keluarga Pak Anies. Tetapi dalam memegang amanah seperti saya dan Bapak/Ibu sekalian, jika kita keluar dari sesuatu yang sebetulnya masih bisa kita pertahankan, kita harus berpikir mungkin ini bukan jalan yang buruk, mungkin ini malah jalan yang lebih baik. Asal kita berserah bahwa ini adalah pilihan Allah, pilihan Tuhan, “ ungkapnya.

“Ciri kerja saya adalah kerja cepat. Mungkin itu salah satu yang dipertimbangkan oleh Bapak Presiden. Padahal, sejujurnya saya tidak mengenal Pak Presiden. Saya tidak tahu juga dasar pertimbangan beliau. Tetapi menurut saya itu baik, berarti pengangkatan ini bukan karena hubungan baik sebelumnya. Mudah-mudahan beliau mengangkat saya karena kapasitas saya, “ kata Muhadjir.

Ia pun akan meninjau kebijakan-kebijakan yang tidak mencerminkan prinsip gotong royong ini. Menurutnya ada tiga hal yang harus diperhatikan, pertama, penerapan inner control yang berasal dari diri sendiri, kedua, kontrol sosial, berasal dari lingkungan atau teman-temannya sendiri, dan ketiga, dengan menggunakan regulasi.

Di akhir acara, Muhadjir berpesan bahwa pada kepemimpinannya, semua yang dilakukan dan dikerjakan adalah ibadah. “Maka dalam bekerja disini niatnya ibadah. Kalau kita niatkan ibadah maka pahalanya dua. Sebagai orang beragama dan beriman tentu kita percaya akan hari akhir, dan percaya apa yang kita perbuat disini maka akan dipanen di akhirat nanti, “ pesannya.

(iw/an)

 

Daftar Bandar Togel Slot Online Terpercaya 2022

togel online

bandar togel

situs togel online

10 Daftar Situs Slot Terpercaya Dijamin VIP

online togel

judi togel online

situs slot online

slot online

togel terpercaya di batam

heromedia

Togel Online Terlengkap dan Terpercaya 2022

togel online

online togel

www togel online com

togel online terpercaya

daftar togel online terpercaya

daftar togel online