Rapat Evaluasi Pengelolaan Keuangan Tahun 2022

Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Rapat Evaluasi Pengelolaan Keuangan Tahun 2022 (10/12/2022). Bertempat di NDC Resort Manado, kegiatan ini dihadiri oleh pegawai Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dan pengurus IKA Dubas Sulawesi Utara tahun 2022.

Adapun tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk melakukan evaluasi pengelolaan keuangan selama tahun 2022 dan melakukan diskusi terkait pengelolaan keuangan yang akan dilakukan pada tahun 2023. Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi, S.I.P., M.M. menyampaikan bahwa pengelolaan keuangan di tahun 2022 ini sudah mencapai target dan diharapkan pada tahun 2023 proses pengelolaan keuangan menjadi lebih baik lagi.

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan acara Ibadah perayaan pra-Natal bagi pegawai yang beragama Kristen. Dipimpin oleh Pdt. Joko Sudarjo, ibadah berlangsung dengan baik. Akhir kegiatan dilakukan penukaran kado Natal bagi para pegawai dan undangan yang hadir dan foto bersama.

Rapat Kerja Kebijakan Pelaksanaan Program Tahun 2023

Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Rapat Kerja Kebijakan Pelaksanaan Program Tahun 2023 (26/11/2022). Bertempat di Hotel Best Western Manado, kegiatan ini diikuti oleh seluruh pegawai dan pengurus Ikatan Alumni Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membahas program-program Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara di tahun 2023 dan program-program dari Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara yang akan dilakukan pada tahun 2023.

Dalam kegiatan ini, pengurus Ikatan Alumni Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara diberikan waktu untuk memaparkan program-program yang akan dan telah dilakukan terkait kebahasaan dan kesastraan. Salah satu program mereka adalah pengajaran bahasa isyarat kepada masyarakat. Selain memaparkan program, dilakukan juga diskusi antar Ikatan Alumni Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dengan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara untuk sinkronisasi program.

Selanjutnya dilakukan foto bersama dan diskusi antara pegawai dengan pengurus Ikatan Alumni Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan diakhiri dengan permainan-permainan untuk membangun kerja sama antar pegawai bersama dengan Ikatan Alumni Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara.

Kampanye Bahasa Indonesia Tahun 2022

Pada tanggal 29 Oktober 2022 Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Kampanye Bahasa Indonesia. Sebelum melakukan kampanye, tim yang terdiri atas PNS, PPNPN, dan Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dibagi menjadi 4. Selanjutnya tim pergi menuju ke 4 lokasi yang telah ditentukan seperti Lapangan Sparta Tikala, Lapangan Koni Sario, Malalayang Beach Walk, dan Kawasan Megamas.

Dalam kegiatan ini, tim membagikan suvenir seperti kaus, buku cerita anak, dan kamus budaya kepada masyarakat yang ada di lokasi-lokasi tersebut. Selain membagikan suvenir, tim juga melakukan kuis terkait Bahasa Indonesia.

Kegiatan Bercerita untuk Anak dalam Rangka Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun 2022

Bulan Bahasa dan Sastra dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap bulan Oktober sejak 1980. Peringatan ini tidak lepas dari peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Butir ketiga Sumpah Pemuda menyatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa persatuan di Indonesia.

Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra juga dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara (BBPSU) di bulan ini pada minggu pertama dengan kegiatan Bincang Sastra yang membicarakan kesastraan yang ada di Sulawesi Utara. Pada minggu kedua diadakan kegiatan Pentas Sastra. Pada minggu ketiga diadakan Lomba Baca Puisi. Minggu keempat diadakan kegiatan Bercerita untuk Anak yang menghadirkan pencerita, yaitu Konsul Jenderal, Konsulat Jenderal Filipina di Manado, Ketua Persatuan Istri Karyawan/Karyawati PLN UIW Suluttenggo, dan fasilitator dari layanan literasi Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara. Minggu terakhir atau minggu kelima, kegiatan akan ditutup dengan Kampanye Bahasa Indonesia.

Kegiatan Bercerita untuk Anak menampilkan tiga orang pencerita. Pencerita pertama, Konsul Jenderal Filipina, Angelica C. Escalona menceritakan kisah The Legend of Pina dalam bahasa Indonesia. Buku ini sendiri aslinya ditulis dalam bahasa Inggris sehingga beliau melakukan persiapan khusus untuk bercerita dalam bahasa Indonesia. Pencerita kedua, Ketua Persatuan Istri Karyawan/Karyawati PLN UIW Suluttenggo, Elisa Meijer Ari Dartomo menceritakan komik berjudul Lintar. Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan program pertama terkait literasi yang diikuti oleh beliau di Sulawesi Utara. Pencerita ketiga, Feby Aditya Kurnaiwan dari Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara menceritakan buku cerita anak Sulawesi Utara berjudul Dunia Kobi. Buku ini menceritakan tentang anak berkebutuhan khusus. Penulis buku Dunia Kobi, Donna Christa Renata, akan hadir dan mengenalkan bahasa isyarat yang menjadi bagian penting buku tersebut.

Peserta kegiatan ini, antara lain siswa dari SD Citra Kasih Manado, SD Kristen Eben Haezar 1 Manado, SDN Negeri 11 Manado, dan SD Negeri 36 Manado. Kegiatan ini diliput oleh CNN TV, TVRI, Metro TV, RRI, Smart FM, Tribun, Manadones, Beritamanado, dan Sindo.

Merangkul Bahasa, Merangkul Indonesia yang Tak Lagi Sunyi

“Wong kongene kok dibanding-bandingke, saing-saingke yo mesti kalah ….”

Siapa yang tak tahu lagu “Ojo Dibandingke” ciptaan Abah Lala yang baru-baru ini marak dan berhasil mengguncang warganet di media sosial melalui penampilan apik dari penyanyi cilik Farel Prayogo dan interpreter bahasa isyarat Wanda Utami? Kebolehan Wanda Utami dalam menginterpretasikan lagu tersebut menjadi sorotan media. Pasalnya mimik dan pembawaan Wanda dikemas dalam penampilan yang epik sehingga popularitas dan minat belajar terhadap bahasa isyarat cukup meningkat pesat.

Data dari World Health Organization (Who.int, 2021) menyatakan bahwa 1,5 miliar orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, sementara di Indonesia sendiri, Kementerian Sosial mencatat 7,03% dari 30,38 juta penyandang disabilitas merupakan tunarungu (Liputan6.com, 2020). Penyandang tunarungu, yang kemudian akrab disapa “Teman Tuli”, tidak sedikit yang malu tampil di ruang publik karena permasalahan komunikasi. Seperti yang telah kita ketahui, komunikasi mempunyai lima unsur utama, yakni komunikator (pengirim pesan), komunikan (penerima pesan), pesan, media komunikasi, dan umpan balik (Pakarkomunikasi.com, 2022). Mari kita sejenak membayangkan bagaimana kiranya seorang Teman Tuli berkomunikasi dengan Teman Dengar, yaitu orang yang dapat mendengar dengan normal (Kompasiana.com, 2018). Ada sebuah kesenjangan jika kita lihat dari unsur media komunikasi yang dalam hal ini adalah bahasa dan umpan balik. Teman Tuli akan menggunakan bahasa isyarat (nonverbal) sebagai media komunikasinya, sedangkan Teman Dengar akan menggunakan bahasa verbal. Oleh karena itu, pesan yang merupakan unsur ketiga tidak dapat terpenuhi karena pesan tidak tersampaikan dengan baik. Begitu pula dengan umpan balik. Bagaimana komunikator dapat memberikan umpan balik, sedangkan pesan yang disampaikan tidak dapat dimengerti oleh komunikan?

Masalah komunikasi inilah yang kemudian berimplikasi terhadap rasa percaya diri Teman Tuli untuk tampil di depan publik. Tidak jarang mereka sulit mendapatkan akses yang sama seperti yang lain, termasuk dalam hal pelayanan publik. Maka dari itu, bahasa isyarat hadir sebagai sebuah solusi terjalinnya komunikasi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah melakukan upaya dalam menggaungkan bahasa isyarat, baik melalui seminar, perlombaan, dan berbagai macam kegiatan. Namun, tugas menggaungkan bahasa isyarat tidak serta merta menjadi tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa semata, melainkan tugas semua pihak, terlebih lagi generasi muda. Ya, lagi-lagi generasi muda. Generasi muda diproyeksikan mampu menjadi tonggak dari sebuah ikhtiar perjalanan hidup berbangsa dan bernegara. Tidak heran jika kemudian Soekarno pernah berkata “Beri aku 10 pemuda, niscaya kuguncangkan dunia”.

Seperti halnya tunas yang memerlukan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh, tunas bangsa ini memerlukan lingkungan yang sehat pula untuk bertumbuh dan berkembang. Optimisme pada tunas bangsa akan bertumbuh subur apabila lingkungan tumbuhnya meneladankan optimisme. Sebaliknya, optimisme itu akan sulit bertumbuh kalau berkembang pada lingkungan tumbuh yang kurang sehat.

Selain upaya di atas, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memberikan kesempatan kepada Duta Bahasa sebagai representasi generasi muda untuk mengatasi masalah tersebut melalui Krida Karya Duta Bahasa. Program krida Duta Bahasa yang diterjemahkan sebagai kegiatan kebahasaan dan/atau kesastraan yang digagas dan dilaksanakan oleh Duta Bahasa dapat meningkatkan sikap positif masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Atas keresahan dan permasalahan tadi, hati kami tergugah untuk menginisiasi krida “Merangkul Bahasa”, yakni sebuah komunitas nonprofit yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Teman Tuli melalui bahasa isyarat.

Melalui krida Duta Bahasa tersebut, Duta Bahasa memegang peran krusial dalam mengembangkan dan membina bahasa. Abdi bahasa, jaga bahasa, dan niaga bahasa sudah menjadi makanan sehari-hari Duta Bahasa. Melalui peran abdi bahasa, kami berikhtiar  dalam mengembangkan dan meningkatkan bahasa isyarat melalui program Sora Menyapa, yakni menyosialisasikan Merangkul Bahasa kepada khalayak luas yang dilaksanakan pada hari bebas kendaraan bermotor setiap dua pekan sekali. Kegiatan tersebut berupa mempelajari bahasa isyarat bersama Teman Tuli dari Difabis (sebuah komunitas di bawah binaan Badan Amal dan Zakat Nasional), membagikan stiker lucu berbahasa isyarat, serta memberikan edukasi terkait bahasa isyarat.

Melalui peran jaga bahasa, kami mengampanyekan bahasa isyarat dengan program Sora Bersua, yakni mengampanyekan bahasa isyarat ke instansi pemerintah dan satuan pendidikan. Dengan mengampanyekan bahasa isyarat di instansi pemerintah, kami berharap Aparatur Sipil Negara sebagai pelayan publik dapat memberikan pelayanan yang sama kepada Teman Tuli sehingga instansi tersebut menjadi instansi yang ramah tuli. Sementara itu, mengampanyekan bahasa isyarat di institusi pendidikan berguna untuk memberi pengertian dan pemahaman kepada generasi muda agar berperan dan mengambil bagian dalam bahasa isyarat. Melalui peran niaga bahasa, kami menyelenggarakan kegiatan edukasi kebahasaan, yakni melalui kelas bahasa isyarat yang diampu langsung oleh Teman Tuli. Selain itu, kami membuat konten edukasi melalui media sosial Instagram. Harapan kami, Teman Dengar tidak sekadar menyadari keberadaan Teman Tuli, melainkan dapat berkomunikasi secara langsung dan membantu Teman Tuli mendapatkan hak yang sama dengan yang lain.

Mengemban tugas sebagai agen peningkatan bahasa isyarat rasanya cukup berat untuk diemban sendiri. Kami menggandeng dan berkolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas. Kami bekerja sama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) sebagai penasihat, KPP Pratama Kotamobagu sebagai mitra dalam mewujudkan pelayanan publik ramah tuli, SMP Negeri 2 Kotamobagu, SMK Negeri 2 Kotamobagu, dan MAN 1 Kotamobagu sebagai mitra dalam menggaungkan literasi bahasa isyarat, Kafe Difabis (komunitas tuli di bawah binaan Badan Amal dan Zakat Nasional) sebagai rekan dalam mengedukasi bahasa isyarat, dan Si Unyu Comic sebagai rekan dalam menggencarkan konten bahasa isyarat melalui media sosial.

Dari beberapa program yang telah kami jalankan, ternyata disambut dan direspons secara positif oleh masyarakat. Terhitung hingga tulisan ini dibuat, akun resmi Instagram Merangkul Bahasa telah mengantongi 542 pengikut dan telah menjangkau lebih dari 9,2 ribu akun. Selain itu, pendaftar kelas bahasa isyarat mencapai 120 orang.

Berbagai kegiatan yang kami upayakan bukan hanya untuk kepentingan perorangan atau segelintir kelompok. Indonesia Inklusi adalah semangat yang membersamai cita-cita kami. Hal tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam mengimplementasikan sila ke-5 Pancasila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Pemerintah berkomitmen dalam mewujudkan inklusivitas (kesetaraan) bagi penyandang disabilitas dengan berbagai kebijakan yang telah dibuat agar penyandang disabilitas dapat menjalani kehidupan layaknya orang normal serta mendapatkan perlindungan dan pemenuhan atas haknya.

Melalui krida Duta Bahasa Merangkul Bahasa, kami berharap dapat menjadi jembatan bagi Teman Dengar dan Teman Tuli untuk saling mengisi, selayaknya pepatah “semua adalah guru, semua adalah murid”. Kami juga berharap Merangkul Bahasa dapat menjadi awal titik terang peran generasi muda dalam upaya menginklusikan Indonesia. Pada akhirnya, kami berharap tidak ada lagi jurang pemisah antara Teman Dengar dan Teman Tuli, tidak ada lagi narasi bahwa Teman Tuli tidak percaya diri tampil di depan publik, serta tidak ada lagi masalah perbedaan hak dan kedudukan antara Teman Tuli dan Teman Dengar.

Besar harapan kami untuk dapat terus melangkah menuju Indonesia Inklusi dengan merangkul orang sebanyak-banyaknya untuk berperan dan ambil bagian dalam bahasa isyarat. Kami percaya bahwa bahasa bukan hanya milik mereka yang bisa mendengarkan dan berbicara, tetapi bahasa milik kita semua. Mimpi kami tak usai di sini, mimpi kami akan terus mengiringi hingga Indonesia inklusi dan dunia tak lagi sunyi. Salam literasi.


Daftar Pustaka

Kompasiana.com. 2018. “Teman Dengar dan Teman Tuli”. Diakses pada 19 Oktober 2022, dari https://www.kompasiana.com/nissaull/5ad3036416835f6b8d581412/teman-dengar-dan-teman-tuli
Liputan6.com. 2020. “Jumlah Penyandang Disabilitas di Indonesia Menurut Kementerian Sosial”. Diakses pada 19 Oktober 2022, dari https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4351496/jumlah-penyandang-disabilitas-di-indonesia-menurut-kementerian-sosial
Pakarkomunikasi.com. 2022. “5 Unsur Komunikasi dan Penjelasan Lengkap”. Diakses pada 18 Oktober 2022, dari https://pakarkomunikasi.com/5-unsur-komunikasi
Who.int. 2021. “Deafness and Hearing Loss”. Diakses pada 19 Oktober 2022, dari https://www.who.int/health-topics/hearing-loss#tab=tab_1

Lomba Baca Puisi Tahun 2022

Dalam rangka meramaikan Bulan Bahasa dan Sastra di Bulan Oktober 2022, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Lomba Baca Puisi. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dan diikuti oleh 53 peserta dari berbagai tingkat pendidikan seperti SMP, SMA sederajat, dan Universitas yang ada di Sulawesi Utara.

Adapun juri dalam lomba ini adalah Anas Yuliadi Nurdin, S.S., M.Hum., Dhanar Widyanto, S.S., dan Akhmad Zulkarnain, S.S. Mereka melakukan penilaian berdasarkan pada irama seperti vokal dan intonasi, wiraga seperti ekspresi dan gestur, wirasa atau penghayatan terhadap puisi yang ditampilkan.

Dari 53 peserta yang ikut, hanya 3 orang saja yang terpilih menjadi penampil terbaik. Mereka adalah Aziel Abigail dari Universitas Sam Ratulangi, Dian Febrianti Putri Nampe dari MAN Model 1 Plus Keterampilan Manado, dan Melissa Daniella Rumimpunu dari SMP Negeri 5 Manado.

Dengan dilaksanakan kegiatan ini diharapkan semakin banyak lagi orang yang antusias dengan karya-karya sastra Indonesia lebih khusus karya puisi dari sastrawan Indonesia.

Sidang Kosakata Bahasa Daerah Tahun 2022

Pada tanggal 12–14 Oktober 2022 Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Sidang Kosakata Bahasa Daerah. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini dilaksanakan secara daring. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memverifikasi data kosakata yang telah dikumpulkan oleh tim KKLP Perkamusan dan Peristilahan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara.

Adapun narasumber dalam kegiatan adalah Azhari Dasman Darnis dan Winda Luthfita dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Mereka melakukan verifikasi data kosakata Bahasa Ponosakan dan Bahasa Pasan.

Diharapkan dengan terverifikasinya data-data tersebut penyusunan kamus Bahasa Ponosakan dan Bahasa Pasan dapat terselesaikan.

Lokakarya Inventarisasi Kosakata Bahasa Daerah Tahun 2022

Pada tanggal 5–7 Oktober 2022 Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Lokakarya Inventarisasi Kosakata Bahasa Daerah Tahun 2022. Bertempat di Hotel Sutanraja Minahasa Selatan, kegiatan ini menghadirkan penutur-penutur Bahasa Ponosakan dan Bahasa Pasan dari Minahasa Tenggara. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk memverifikasi hasil inventarisasi kosakata Bahasa Ponosakan dan Bahasa Pasan yang telah dikumpulkan oleh KKLP Perkamusan dan Peristilahan.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini adalah Lengkong Alexander Sahelangi dan Gustav Sengkey, (Narasumber Bahasa Pasan) Rohana Nou dan Abdul Kohar Sampage (Narasumber Bahasa Ponosakan). Mereka memberikan informasi-informasi terkait Bahasa Pasan dan Bahasa Ponosakan. Selain memberikan informasi, dalam kegiatan ini narasumber, panitia KKLP, dan peserta juga berdiskusi untuk membahas kosakata-kosakata bahasa tersebut.

Dengan diadakan kegiatan ini, diharapkan ke depannya Bahasa Pasan dan Bahasa Ponosakan dapat dilestarikan bahkan semakin bertambah penuturnya di daerah Minahasa Tenggara.

Pentas Sastra Tahun 2022

Dalam rangka memperingati momen Bulan Bahasa dan Sastra tahun 2022, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan berbagai kegiatan selama bulan Oktober. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra adalah Pentas Sastra pada hari Sabtu, 8 Oktober 2022.

Kegiatan Pentas Sastra Bulan Bahasa dan Sastra 2022 diisi dengan baca puisi, musikalisasi puisi, dan teater monolog. Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa SMP sederajat dan SMA sederajat di Provinsi Sulawesi Utara.

Momen Bulan Bahasa dan Sastra kali ini, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara mengadakan lima kegiatan, yaitu Bincang Sastra, Pentas Sastra, Lomba Baca Puisi, Bercerita untuk Anak, dan Kampanye Kebahasaan. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Bapak Januar Pribadi.

“Kami Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara mengucapkan selamat memperingati Bulan Bahasa dan Sastra di Sulawesi Utara semoga bahasa Indonesia semakin jaya dan bahasa daerah tetap dilestarikan di Sulawesi Utara,” kata Bapak Kepala Balai.

Sebelum kegiatan Pentas Sastra, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara sudah menyelenggarakan kegiatan Bincang Sastra pada tanggal 1 Oktober 2022. Kegiatan selanjutnya dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra selanjutnya adalah Lomba Baca Puisi, Bercerita untuk Anak, dan Kampanye Kebahasaan.

Bulan Bahasa dibuka dengan Bincang Sastra

Bulan Oktober telah dicanangkan menjadi Bulan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara (BBPSU) mengadakan serangkaian kegiatan di bulan ini.  Bincang Sastra membuka Bulan Bahasa dengan menghadirkan tiga sastrawan mumpuni yang masih muda, yaitu Jenry Koraag, Rahadih Gedoan, dan Achi Breyvi Talanggai.  Topik pembicaraan pada perkembangan sastra di Sulawesi Utara (Sulut).

Pembicara pertama, Jenry Koraag, Ketua Harian Dewan Kesenian Kota Manado memulai dengan pendapat bahwa sejarah kesusastraan di Sulut belum ada yang menulis menurut rentetan waktu. . Penulisan sejarah kesusastraan di Sulut dapat dimulai dengan tokoh J.E. Tatengkeng.  Dia juga menyatakan karya sastra yang terdokumentasi di Sulut masih sedikit dibutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.

Pembicara kedua, Achi Breyvi Talanggai yang merupakan Ketua Isbima, Institut Seni Budaya Independen Manado. Dia menyatakan bahwa di Sulut banyak sastrawan muda dan kelompok baru masih merasa sungkan untuk tampil. Penulis-penulis muda banyak yang berhenti berkarya karena terkendala dengan memublikasikan karyanya, mereka tidak dapat menerbitkan karya karena mahalnya penerbitan, penerbitan yang murah berada di luar Sulut. Dia juga menyatakan bahwa kendala yang dihadapi sastrawan di Sulut, yaitu tidak adanya industri sastra yang dapat memasarkan karya mereka, dalam hal penulisan tidak adanya penerbit yang tersedia dan murah di Sulut.  Sastrawan selama ini hanya terbantu dari pembayaran royalti yang mementaskan karya mereka.

Pembicara ketiga, Rahadih Gedoan, Ketua Komunitas Setali Sekawan memaparkan materinya menjadi tiga bagian besar, yaitu Sulut merupakan daerah produksi sastra yang tinggi di bidang keagamaan, Fenomena baru yang kurang diseriusi oleh para sastrawan, yakni sastra digital, dan kegiatan bersastra di Sulut masih belum terorganisasi dengan baik. Sastrawan yang berinisiatif sangat banyak, tetapi butuh pemerintah untuk dapat menjaga kelansungan bersastra di Sulut.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara turut berpendapat tentang kesastraan di Sulut.  Menurut beliau, Kasastraan tidak hanya tanggung jawab pemerintah pusat melalui BBPSU, tetapi semua kalangan harus terlibat khususnya pemerintah daerah.  Pembinaan sastra harus dimulai dari usia dini agar tertanam nilai kesastraan yang kuat. Bincang sastra diakhiri dengan foto bersama semua peserta yang hadir.