Bangun Apresiasi Sastra, Badan Bahasa dan Majalah Horison Jalin Kerja Sama

Bangun Apresiasi Sastra, Badan Bahasa dan Majalah Horison Jalin Kerja Sama

Jakarta – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Dadang Sunendar menerima kunjungan resmi Majalah Horison Indonesia yang dipimpin oleh Sastrawan Taufiq Ismail di Ruang Rapat Gaura, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 11 Agustus 2016.

Kunjungan tersebut terkait kerja sama yang akan dilakukan oleh Majalah Horison Indonesia dengan Badan Bahasa dalam upaya menumbuhkan apresiasi sastra Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Dadang Sunendar menyampaikan selamat kepada Majalah Horison untuk ulang tahunnya yang ke-50, dan selamat atas peluncuran Majalah Horison dalam jaringan (daring).

Terkait kerja sama yang akan dijajaki, Dadang memaparkan bahwa, “Tahun ini Badan Bahasa ditugasi dalam pengayaan bahan literasi terkait dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Kami telah menyiapkan 170 judul cerita rakyat untuk mendukung hal itu,” papar Dadang.

“Harapan kami, apabila dimungkinkan bekerja sama dengan Majalah Horison untuk menyiapkan bahan bacaan sastra untuk anak didik kita. Dan juga kerja sama terkait program penerjemahan, apabila ada karya sastra yang ingin diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Selain itu, kerja sama karya sastra untuk bahan ajar BIPA,” tambah Dadang.

“Selama 66 tahun lamanya, sastra ini di dalam pendidikan kita tidak diajarkan seperti seharusnya,” tutur Taufiq mengawali pembicaraan. Kami perbandingkan pengajaran sastra di SMA di 13 negara termasuk Indonesia, Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku,” ucapnya.

Menurutnya, hal ini sangat bertolak belakang dengan keadaan pada masa Hindia Belanda, yaitu 25 judul buku sastra yang wajib dibaca dalam tiga tahun, dan dengan pola pengajaran seperti ini lahirlah para pemimpin bangsa, seperti Soekarno, Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Soemitro Djoyohadikusumo, Mohamad Natsir, dan seterusnya. “Tokoh-tokoh ini meskipun fasih berbahasa Belanda dan Inggris tetapi tetap nasionalis dan tidak menjadi antek Belanda, mereka memperjuangkan dan memproklamasikan kemerdekaan,” kata Taufiq penuh semangat.

“Buku sastra itu bukan saja wajib dibaca, tetapi disediakan di perpustakaan sekolah, dan saat ini yang diajarkan di SMA Indonesia terkait sastra adalah ringkasan. Jadi, novelnya Marah Rusli itu bukannya dibaca sampai tamat, tetapi hanya baca ringkasan atau sinopsisnya saja, “ungkapnya.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan bahwa pelajaran mengarang di negara lain itu setiap minggu satu karangan, bahkan di beberapa negara ada pelajaran mengarang itu setiap hari. Di Indonesia, pada masa Hindia Belanda diwajibkan seminggu sekali mengarang. “Tetapi keadaan sekarang di banyak sekolah, di sekolah-sekolah yang hebat, 5—6 kali mengarang dalam setahun, tetapi di mayoritas SMA di Indonesia yang jumlahnya 25.000 sekolah, pelajaran mengarang itu cuma sekali setahun yaitu ketika mau naik kelas. Ada ujian naik kelas mengarang, dan judulnya dari Sabang sampai Merauke, judulnya sama “Berlibur di Rumah Nenek”, “kata Taufiq lirih.

Majalah Horison adalah majalah bulanan kesastraan yang paling lama hidupnya dalam sejarah sastra Indonesia, yaitu sejak tahun 1966. Ketika terbit pertama kali pada bulan Juli 1966, majalah itu tidak dapat dipisahkan dari suasana dan semangat kebudayaan pada tahun itu. Dasar diterbitkannya majalah ini adalah semangat untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan mencipta.

Majalah ini dibiayai oleh Yayasan Indonesia yang didirikan tanggal 31 Mei tahun 1966. Pengasuh majalah ini terdiri atas Mochtar Lubis (Penanggung Jawab); Dewan Redaksi: Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin (Arief Budiman), dan D.S. Moeljanto.

Pada tahun-tahun pertama terbit, majalah ini masih banyak memuat karya sastra yang berhubungan dengan situasi politik waktu itu, misalnya sajak-sajak “demonstran” dan karya-karya yang menentang kezaliman kekuasaan otoriter Orde Lama. Namun, setelah itu muncul penulis baru yang banyak di antaranya berasal dari lingkungan perguruan tinggi sehingga corak tulisan lebih mengarah kepada niat pembaharuan. Sampai tahun 1974—1975 Horison penuh dengan karya avant garde yang dikerjakan, antara lain, oleh Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Danarto, Ikranegara, Sides Sudyarto. Setelah itu, makin sedikit karya mereka yang muncul sehingga makin santer isu merosotnya mutu majalah itu.

Dari tahun 1966 sampai tahun 1975, majalah ini mengalami zaman emas karena merupakan majalah sastra satu-satunya yang berwibawa. Pemuatan karangan pada majalah ini seolah-olah merupakan pengakuan keberadaan sastrawan. Dengan demikian Horison sebenarnya menampung tumbuhnya sebuah generasi baru angkatan sastra. Namun, pada tahun 1980-an majalah ini sudah ditinggalkan oleh kebanyakan penulis itu. Kemudian muncullah generasi penulis baru yang kebanyakan dilahirkan pada tahun 1950-an.

Majalah Horison versi cetak sejak bulan Juli 2016 telah resmi dihentikan, dan untuk selanjutnya terbit dalam bentuk daring. (an)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *