PENYAIR ATAU PEMUISI?

Suatu sebutan biasanya menunjukkan sesuatu yang acapkali dikerjakan atau dilakukan seseorang. Dengan kata lain, orang yang menggeluti sesuatu biasanya mendapat julukan sesuai dengan bidang apa yang digelutinya tersebut. Orang yang pekerjaannya bertani disebut petani. Orang yang memberikan ceramah disebut penceramah. Orang yang menekuni bisnis disebut pebisnis. Begitu pula dengan orang yang mata pencariannya menghibur orang lain lewat lawakan disebut pelawak.

Bagaimana dengan orang yang suka menulis atau mencipta puisi? Memang selama ini orang yang kerjanya membuat puisi disebut penyair. Akan tetapi, pemberian sebutan itu sebenarnya kurang – jika tidak ingin dikatakan tidak tepat. Mengapa kurang tepat? Jawabannya sederhana saja, yaitu puisi lebih besar cakupannya disbanding dengan syair. Puisi mencakup puisi lama (puisi terikat) dan puisi baru (puisi bebas), sedangkan syair hanyalah salah satu jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris sebait dan bersajak rata aaaa. Singkat kata, syair hanyalah bagian kecil dari keluarga besar puisi. Dengan demikian, tidaklah dapat dipersamakan antara syair dengan puisi.

Lalu, ungkapan atau sebutan apa yang lebih tepat diberikan kepada orang yang suka membuat puisi. Ada dua sebutan yang pas atau cocok diberikan untuk orang yang kerjanya membuat puisi, yaitu (1) pemuisi dan (2) puisiman. Sebutan yang pertama dibentuk dari kata dasar puisi ditambah dengan awalan pe- dan sebutan yang kedua dibentuk dari kata dasar puisi ditambah dengan akhiran -man. Untuk lebih jelas, proses pembentukannya dapat digambarkan sebagai berikut.

  • puisi + pe- → pemuisi
  • puisi + -man → puisiman

Perlu dijelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia awalan pe- dan akhiran -man mempunyai fungsi yang sama, yakni membentuk kata benda. Di samping itu, awalan pe-  dan akhiran -man juga mengandung arti yang sama, yaitu ’orang yang biasa/pekerjaannya/ gemar melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar’. Dipilihnya akhiran -man (bukan akhiran yang lain) dimaksudkan untuk menambah keproduktifan akhiran -man itu sendiri. Selama ini akhiran -man hanya bisa melekat pada kata budi dan seni, membentuk budiman dan seniman.

*) ANHARUDDIN HUTASUHUT

Balai Bahasa Papua Gelar Lomba Mendongeng

Jayapura, – Balai Bahasa Provinsi Papua menggelar lomba mendongeng di Kota Jayapura, 18 – 19 April 2016.

Lomba yang diikuti puluhan peserta itu dalam rangka Pekan Sastra dan pelantikan pengurus Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Ketua panitia lomba, Asmabuassepe mengatakan jumlah peserta kali ini mengalami peningkatan. Dalam kuota ditetapkan 50 peserta, tetapi pendaftar mencapai 78 peserta dan 66 peserta yang hadir hingga pengambilan nomor urut. Menurutnya peserta meningkat karena publikasi yang luas. Sebelumnya hanya melibatkan TK dan SD, tetapi kali ini pegiat sastra juga dilibatkan.

“Tahun lalu hanya 25 peserta,” katanya kepada Jubi dalam keterangan tertulis, Rabu (20/4/2016).

Kreativitas, teknik penyajian, optimalisasi waktu, dan penguasaan panggung merupakan aspek-aspek yang dinilai dalam lomba. Oleh karena itu, diharapkan kemampuan dan kecintaan peserta dalam mendongeng semakin meningkat.

“Dengan kemampuan gurunya mendongeng lebih bagus akan membuat siswa lebih tertarik. Kemudian masyarakat juga ikut tertarik atau ada kecintaan terhadap dongeng,” ujarnya.

Zaman sekarang dongeng jarang diperdengarkan karena kehidupan masyarakat didominasi teknologi informasi. Oleh sebab itu, perlu dihidupkan kembali. Dongeng mampu merekatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

“Waktu kita kecil dulu tidur diantar pakai dongeng. Sekarang tidak tampak lagi karena arena anak-anak cenderung tertarik kepada alat-alat elektronik,” katanya.

Ia pun mengharapkan dalam sepekan diselingi kegiatan mendongeng dalam sekolah. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, terutama menjelang tidur.

Peserta lomba dari Sekolah Menulis Papua, Siti Nurhidayati mengaku senang mengikuti lomba tersebut karena dapat meningkatkan daya saing, terutama yang belum menguasai teknik mendongeng yang benar.

“Ini pertama saya ikut lomba mendongeng meski bukan guru. Lomba mendongeng menjadi pengalaman menarik untuk saya,” katanya. (Timo Marten)

Balai Bahasa ajukan 50 kosa kata baru

 

“Tahun ini tim pendataan kosa kata baru mengajukan sekitar 50 kosa kata yang diadopsi dari bahasa daerah Papua, untuk dimasukkan dalam perbendaharaaan kosa kata bahasa Indonesia,” kata Kasubag TU Balai Bahasa Provinsi Papua Suharyanto.

Jayapura – Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, di Jayapura, mengajukan 50 kosa kata baru untuk didata di Badan Bahasa Pusat, di Jakarta, dan diakui sebagai bagian dari Bahasa Indonesia.

“Tahun ini tim pendataan kosa kata baru mengajukan sekitar 50 kosa kata yang diadopsi dari bahasa daerah Papua, untuk dimasukkan dalam perbendaharaaan kosa kata bahasa Indonesia,” kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Bahasa Provinsi Papua Suharyanto, di Jayapura, Minggu.

Ia mengatakan, tahun sebelumnya tim yang sama mengajukan 90 kosa kata Papua ke Badan Bahasa Pusat untuk diakui sebagai kosakata bahasa Indonesia.

Sebanyak 90 kosa kata yang diajukan pada 2013 itu, semuanya diakui sebagai kosa kata bahasa Indonesia.

“Kosa kata yang diajukan dan sudah diakui sejak 2013, diantaranya Papeda, Tifa, noken dan Honai,” ujarnya.

Menurut Suharyanto, umumnya kosa kata Papua dihimpun dari bidang budaya, kepemimpinan tradisional, bidang makanan dan yang berkitan dengan kearifan lokal di wilayah paling timur Indonesia.

“Kosa kata Papua dari berbagai bidang itu kami kumpulkan lalu ajukan ke Badan Bahasa yang ada di Jakarta untuk dapat dimasukkan menjadi bagian kosa kata Indonesia yang termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” katanya.

Hal itu, kata Suharyanto, dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat warga yang ada di Tanah Papua agar sejajar dengan saudara-saudaranya di wilayah lain.

“Ini upaya untuk mengangkat Papua agar sejajar dengan daerah lain tidak hanya melalui sektor ekonomi, olahraga tapi juga bisa diangkat melalui sektor budaya lebih khusus lagi melalui bahasa,” ujarnya.

Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk mengembangkan bahasa dan sastra yang ada di daerah itu.

“Sudah dua tahun berturut-turut sejak 2013 dan 2014 tim pendataan kosakata berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat orang di Papua melalui bahasa dengan cara mengumpulkan kosa kata Papua,” ujarnya.

Ia mengatakan, tim kosa kata yang dibentuk bertugas mendata kosa kata Papua melalui buku cerita rakyat, dongeng dan buku sejarah bernuansa Papua.

“Buku yang digunakan dari berbagai bidang, ada ekonomi, sosial, budaya dan adat,” ujarnya.

Suharyanto menambahkan, pada KBBI edisi empat Tahun 2008, baru 136 kosa kata Papua yang sudah diakui oleh Badan Bahasa Pusat di Jakarta sebagai kosa kota bahasa Indonesia.  (*)

Daftar Bandar Togel Slot Online Terpercaya 2022

togel online

bandar togel

situs togel online

10 Daftar Situs Slot Terpercaya Dijamin VIP

online togel

judi togel online

situs slot online

slot online

togel terpercaya di batam

heromedia

Togel Online Terlengkap dan Terpercaya 2022

togel online

online togel

www togel online com

togel online terpercaya

daftar togel online terpercaya

daftar togel online