Program Penulisan Mastera: Novel, Wahana Tingkatkan Kreativitas Penulis Muda Asia Tenggara

Program Penulisan Mastera: Novel, Wahana Tingkatkan Kreativitas Penulis Muda Asia Tenggara

Cianjur — Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) sangat berpotensi untuk meningkatkan kreativitas penulis-penulis muda di Asia Tenggara khususnya negara anggota Mastera. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Pelaksana dan Sekretaris Mastera Indonesia, Dr. Ganjar Harimansyah mewakili Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang berhalangan hadir saat membuka Program Penulisan Mastera: Novel di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, Minggu, 7 Agustus 2016.

Selanjutnya, Ganjar menambahkan bahwa salah satu hal terpenting dalam penyelenggaraan tahun ini adalah harus ada efek terhadap komunitas, “Jadi, selain mempunyai karya yang sudah diterbitkan, peserta juga harus terlibat aktif dalam komunitas kesastraan dan kepenulisan, karena diharapkan selesai dari kegiatan ini dapat menularkan pengalaman dan ilmu yang didapat,” tambahnya.

Mastera yang beranggotakan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, sudah memulai program ini sejak tahun 1997. Dan untuk Indonesia diwakili oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program penulisan ini tidak hanya novel, tetapi ada esai, puisi, cerpen, dan naskah drama.

 “Kiprah penulis yang telah mengikuti program ini juga sudah banyak, dan program ini tidak sekadar pelatihan tetapi juga penjalinan ukhuwah Antarpenulis di negara anggota Mastera,” ungkap Ganjar.

Nantinya, “Peserta akan dibimbing oleh empat orang pembimbing dari Indonesia yaitu Ahmad Tohari, Agus R. Sardjono, Triyanto Triwikromo, dan Abidah El Khailaqy, satu orang pembimbing dari Malaysia, Kamariah binti Kamarudin, dan satu orang pembimbing dari Brunei Darussalam, Norsiah Abdul Gapar,” kata Ganjar menutup sambutannya.

Penulis yang terseleksi untuk mengikuti program ini sebanyak 17 orang, 13 orang dari Indonesia, dua orang dari Malaysia, dan tiga orang dari Brunei Darussalam. Namun, untuk peserta dari dari Thailand dan Singapura tidak bisa hadir karena kendala teknis di negaranya.

Maemunah, peserta dari Cirebon, mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa bergabung, bertemu banyak teman, dan belajar banyak hal dalam kepenulisan, “Saya berharap sekali bisa menambah lagi (ilmu) bagaimana cara penulisan yang baik dan mengemas sebuah novel menjadi menarik. Kemudian, Inung Setyani peserta dari Tarakan, Kalimantan Utara, berharap mendapatkan banyak masukan dari pembimbing dalam menyempurnakan novel yang sedang ditulisnya. (an/tr)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *