Uji Keterbacaan UKBI: Upaya Meningkatkan Kompetensi Pemahaman Pedoman UKBI

Uji Keterbacaan UKBI: Upaya Meningkatkan Kompetensi Pemahaman Pedoman UKBI

Jakarta — Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) merupakan salah satu program unggulan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Terkait dengan hal itu, Pusat Pengembangan dan Pelindungan (Pusbanglin), Badan Bahasa menyelenggarakan kegiatan Uji Keterbacaan UKBI pada tanggal 6—13 Agustus 2016 di kantor Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keterbacaan atau pemahaman publik atas Pedoman UKBI.

UKBI merupakan tes standar untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia penutur bahasa Indonesia baik penutur jati maupun asing yang dilakukan secara lisan dan tertulis. Pengujian UKBI terdiri dari lima sesi, yaitu tes mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Guna melaksanakan pengujian UKBI, perlu disusun pedoman UKBI yang memiliki hasil uji tingkat keterbacaan yang tinggi. Oleh karena itu, “Uji Keterbacaan UKBI penting dilakukan, karena ketika satu naskah disampaikan ke publik atau masyarakat, naskah tersebut harus bermanfaat dan sesuai dengan tujuannya terutama naskah-naskah yang berkaitan dengan pembelajaran atau pengujian,” ujar Atikah Solihah, M.Pd., Kepala Subbidang Proses Pembelajaran, Bidang Pengembangan, Pusbanglin, Kamis, 11 Agustus 2016.

“Sasaran utama Uji Keterbacaan UKBI adalah guru, mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dosen, dan para pekerja profesional. Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Bahasa mengundang 150 orang dari kalangan guru (SD, SMP, SMA), mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dan dosen untuk menjadi peserta kegiatan Uji Keterbacaan UKBI dengan pembagian 25 orang peserta setiap harinya selama enam hari,” ungkap Atikah.

Selanjutnya, Atikah juga mengatakan bahwa penilaian Uji Keterbacaan UKBI dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat keterbacaan rendah, jika nilainya 20%. Tingkat keterbacaan sedang, jika nilainya 20—70%, dan >70% tergolong tingkat keterbacaan tinggi. Penilaian Uji Keterbacaan UKBI pun didasarkan pada hasil penghitungan metode Uji Rumpang dan Uji Deskriptif dengan Skala Likert.

“Jadi, dengan menggunakan dua metode ini, akan didapatkan gambaran keterbacaan yang lebih utuh dari naskah Pedoman UKBI yang sudah disusun,” harap Atikah.

Contoh metode Uji Rumpang, jika ada tujuh bab dalam suatu naskah, maka akan diambil satu bagian dari setiap bab untuk dirumpangkan atau dikosongkan, dan peserta diminta mengisi bagian kosong tersebut dengan kata yang benar. Sedangkan metode Uji Deskriptif dengan Skala Likert, contohnya, jika ada sepuluh butir soal diberikan pilihan A, B, C, dan D, peserta diminta untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut dan menjelaskan mengapa mereka memilihnya. (pad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *