Balai Bahasa akan Suluh Dinas dan Biro Pembuat Reklame

BORNEONEWS, Palangka Raya – Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah akan memberi penyuluhan Bahasa Indonesia terhadap Dinas dan Biro Pembuat Reklame. Hal ini diungkapkan Basori, Tenaga Penyuluh pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah saat menjadi pembicara dalam Kegiatan Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi awak media se-Provinsi Kalimantan Tengah di Hotel Fovere Palangka Raya, Kamis (9/3/2017).

Ia melanjutkan usai penyuluhan kepada media sejak 7-9 Maret 2017 ink pihaknya akan memberi pelatihan kepada dinas yang mengurusi dan mengeluarkan perijinan reklame serta biro pembuat reklame itu sendiri.

“Kita memang tidak boleh lelah untuk berusaha untuk mengampanyekan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kadang lelah juga kok susah sekali tapi kembali lagi, inilah pekerjaan kita,” jelasnya. (TESTI PRISCILLA/B-8)

Menulis bukanlah persoalan yang mudah. Kita harus bisa menampilkan informasi secara wajar, segar, dan enak di-baca. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan untuk membuat indah dan komunikatifnya sevuag tullisan, di antaranya penggunaan sinonim kata yang bervariasi, pilihan kata atau diksi yang berdasarkan acuan makna majasi. Karenanya, tidak mudah bagi penulis pemula maupun kebanyakan jurnalis untuk mengembangkan pengetahuan bahasanya dan memperluas kosa kata bahasa yang diketahuinya.

Gorys Keraf (2003) mengatakan, majas atau gaya bahasa merupakan bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan cara memperkenalkan atau membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

Penggunaan majas tertentu dapat mengubah serta me-nimbulkan konotasi tertentu pula atau tautan pikiran lain. Tak heran, majas terbukti mampu mengimbau indera pembaca karena lebih konkret dan dan dapat menghidupkan tulisan.

Keraf membagi tiga jenis majas yang terpenting, yakni (1) majas perbandingan, mencakup perumpaan, kiasan (metafora), dan penginsanan (personifikasi); (2) majas pertentangan, yakni hiperbol, litotes, dan ironi; (3) majas pertautan, mencakupi metonomia, sinekdoke, kilatan (alusi), dan eufemisme.Yusrita Yanti menyebutkan, pilihan kata yang ditulis seseorang sangat erat hubungannya dengan makna. Makna satu kata atau ungkapan dapat mengacu pada makna harfiah (denotasi) dan konotasi (makna majasi). Karena itu ia berpendapat, diksi seseorang di dalam berkomunikasi baik lisan maupun tertulis, mempunyai daya tarik tersendiri dan dapat menentu-kan efektif tidaknya sebuah komunikasi. Cara seperti ini, menurutnya, merupakan suatu usaha untuk mengem-bangkan daya imajinasi dan daya kreativitas berbahasa. Biasanya, diksi yang dikembangkan melalui acuan makna tersebut akan menciptakan suatu tekstur dan pesona tersendiri dalam suatu tulisan.

 

  1. Personifikasi

Daya tarik penggunaan majas personifikasi dalam me-nyampaikan informasi sosial, politik, ekonomi, dan budaya cukup marak digunakan kalangan media karena memberikan nilai rasa tersendiri. Lihatlah contoh berikut.

  1. Gabungan delapan parpol mencalonkan Abdillah,…PKS mengelus Maulana Pohan …
  2. Gabungan delapan parpol mencalonkan Abdillah,…PKS mencalonkan/mengusulkan Maulana Pohan …
  3. Provinsi beranak-pinak, kabupaten dan kota beranak cucu, semua mekar bertambah jumlahnya.
  4. Tanpa memedulikan protes dunia, Amerika Serikat (AS) kemarin mulai menghajar Irak, AS menutup telinganya.
  5. … dunia kembali melupakan kelakuan AS yang telah sewenang-wenang terhadap Irak.
  6. Inilah anak desa yang menapak karier jauh dari bawah, kemudian menaklukkan Bahkan ‘meruntuhkan’ langit hiburan nasional.
  7. Goyang Inul Daratista berhasil mengguncang panggung hiburan Indonesia.
  8. Rhoma dinilai telah memasung hak berekspresi.
  9. Uang telah merasuki tidak saja saku anggota DPRD, tetapi jiwa dan raga amereka.

Contoh lain :

Pada contoh a) terlihat pemakaian majas perbandingan penginsanan (personifikasi). Artinya, majas melekatkan sifat-sifat insani terhadap barang yang tidak bernyawa atau ide yang abstrak. Di situ dikatakan, PKS dapat mengelus Maulana Pohan. PKS dianggap mempunyai sifat yang sama dengan makhluk hidup sehingga bisa mengelus. Bandingkan dengan b) bila verba mengelus diganti dengan mencalonkan atau mengusulkan, nilai dua kalimat itu akan berbeda. Begitu juga contoh (c), pemakaian majas personifikasi terasa menghidupkan kalimat, bandingkan bila frasa “beranak pinak” diganti dengan “berkembang”, lalu “beranak cucu” diganti dengan “bertambah” sehingga kalimat itu terasa hambar dan kurang hidup.

 

  1. Metafora

Pada contoh berikut terdapat pemakaian ban utama dan ban serep yang merupakan majas perbandingan kiasan (metafora), yaitu perbandingan yang implisit. Sifat yang ada pada “ban utama” sebagai penggerak mobil mengacu kepada Presiden yang menjalankan pemerintahan, sedangkan “ban serep” sebagai ban cadangan untuk menggantikan ban utama bila sedang rusak. Ban serap ini mengacu kepada Wakil Presiden yang bertugas mewakili Presiden bila berhalangan. Di dalam contoh kalimat ini juga terselip dialek Betawi ogah dan serep yang merupakan kosa kata tidak standar. Tengoklah :

Semua menjadi ban utama dan ogah menjadi ban serep.

Juga lihatlah judul berita yang berikut.

→ b. Tiada yang agung yang tidakpun jadi.

→ c. Tiada yang agung yang hinapun jadi.

→ b. Cepat dingin.

→ b. Presiden S-1.

→ b. Tarian Inul dan Demokrasi.

Dari contoh-contoh tersebut (1a-4a) terlihat penggunaan kata perbandingan “emas dan loyang”. Secara metaforis, kata emas mengacu kepada sesuatu yang murni, agung, luhur, dan mulia, sedangkan loyang sebaliknya.

Frasa “hangat-hangat tahi ayam”, sesuatu yang dikiaskan cepat dingin atai tidak bertahan lama. Judul ini mengkritisi pemerintah yang menangani permasalahn yang tidak pernah tuntas, mula-mula bersemangat kemudian diam tanpa terlihat hasilnya. Lalu, frasa “Presiden dan es lilin”, mengacu kepada pendidikan Presiden yang diusulkan minimal S-1, angka satu disimbolkan es lilin.

Sedangkan “goyang Inul dan demokrasi”, pilihan kata “goyang” alih-alih “tari” lebih mempunyai nilai rasa apalagi ditambah penggunaannama Inul, seorang artis dangdut yang terkenal dengan goyang “ngebor”-nya. Pilihan kata tersebut akan berbeda nilai rasanya bila contoh tersebut diubah seperti yang tampak pada (1b-4b).

 

  1. Hiperbola

Keunikan bahasa jurnalistik juga bias terlihat dari penggunaan majas hiperbola. Yang dimaksud hiperbola ialah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan baik jumlah, ukuran maupun sifatnya.

Perhatikan contoh berikut, kata atau verba ‘menaklukkan’, ‘meruntuhkan’, dan ‘mengguncang’.

 

  1. Denotasi dan Konotasi

Dalam kalimat jurnalistik, pilihan kata sangat berperan menentukan komunikatif tidaknya suatu pesan yang akan disampaikan. Untuk itu, Hamilton sebagaimana dikutip Yusrita menyarankan agar menggunakan kata-kata secara tepat, akurat, dan jelas dengan memperhatikan makna denotasi dan konotasi.

Perhatikan beberapa kata berikut yang punya makna denotasi yang sama, tapi punya makna konotasi yang berbeda.

National leader ‘pemimpin nasional’ berkonotasi positif. (+).

Political ‘politikus’ berkonotasi negatif (-).

Pada contoh tersebut, kata ‘pemimpin nasional’ berkonotasi positif sedangkan ‘politikus’ berkonotasi negative karena orang beranggapan yang berbau politik dapat menggunakan segala cara yang terkadang cara itu merugikan.

Kalimat berikut juga berkonotasi (-).

→ b. Rhoma dinilai telah melarang/menahan/ menghambat hak berekspresi.

Menurut KBBI, verba “memasung” berarti membe-lenggu seseorang dengan pasung, yaitu alat untuk meng-hukum orang, berbentuk kayu atau kayu berlubang, di-pasangkan pada kaki, tangan atau leher. Tentu saja pilihan kata tersebut akan lebih berkonotasi negative bila verba memasung dibandingkan dengan verba melarang, menahan, atau menghambat’.

Gorys Keraf (2003) menyebutkan, makna konotasi mengacu kepada jumlah semua tautan pikiran yang me-nentukan pilihan nilai rasa. Dan, konotasi itu bisa bersifat pribadi dan bergantung pada pengalaman seseorang dengan kata atau barang maupun gagasan yang diacu oleh kata itu.  Bagi masyarakat, makna verba ‘memasung’ sangat me-nyakitkan dan berat sekali, disbanding penggunaan verba melarang, menghambat, atau menahan. Contoh lain :

→ b. Uang telah memasuki tidak saja saku anggota DPRD, tetapi jiwa dan raga mereka.

Secara denotatif, verba ‘merasuki’ berkonotasi negatif daripada verba ‘memasuki’.Konsep kesinoniman diartikan sebagai sesuatu yang memiliki makna yang kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Keraf juga mengatakan, kesinoniman ada yang murni, yakni dua kata memiliki makna yang persis sama; di samping itu ada yang mirip, yaitu kesinoniman tidak begitu sama betul. Di sini terdapat perbedaan makna, tetapi perbedaannya tidak terlalu mencolok, misalnya menyenangkan dan memuaskan.

Dalam bahasa jurnalistik, kecenderungan untuk meng-gunakan pilihan kata seperti itu ditujukan agar informasi atau pesan yang disampaikan akan lebih komunikatif dan menarik dibaca dan dibahas lebih dalam bukan hanya sekadar menarik perhatian. Lihatlah contoh berikut.

→ b. Menasihati Bush.

→ b. Mengawasi anggota KPU.

→ b. Aceh tanpa perang.

Pada contoh (1a-3a) tampak ada perbedaan nilai rasa dibandingkan dengan (1b-3b), yaitu ‘mengetuk hati’ dengan ‘menasihati’, ‘semut’ alih-alih ‘anggota’, dan kata ‘darah’ alih-alih ‘perang’. Seperti dikatakan Hamilton via Yusrita “The power of a single word is incredible”, artinya kekuatan satu kata sanagat menakjubkan.

Bahkan dalam dunia bisnis penggunaan kata yang tepat untuk tujuan tertentu sangat memberikan dampak positif. Sehingga, makna verba ‘mengetuk’ secara denotatif artinya ‘memukul dengan sesuatu”. Berbeda dengan verba ‘menasihati’ yang sifatnya abstrak dan tidak bisa dikenakan langsung kepada objek yang dituju.

Begitu juga kata “semut” sebagai pengganti kata anggota KPU. Makna yang terkandung adalah bahwa semut menyukai gula. Fenomena ini dikaitkan dengan situasi social yang ada di KPU dan jumlah uang yang diperlukan selama persiapan pemilu.

Selanjutnya kata “darah” lebih berkonotasi negative ketimbang kata “perang”. Tampaknya, alas an penggunaan majas ini bertujuan untuk menggelitik hati pembaca agar mengetahui lebih lanjut informasi yang akan digelar.

Alasan lain, adalah untuk memelihara prinsip kesopanan berbahasa tanpa melupakan tujuan utama yaitu mengkritik, namun mengkritik secara halus dan sopan.Kenyataan, menggunakan diksi yang bervariasi meng-isyaratkan bahwa kosa kata BI memang perlu digali dan dikembangkan melalui perluasan makna.

Lagi-lagi Keraf mengatakan, ada sejumlah cara untuk memperluas kosa kata, yaitu (1) pemakaian kamus umum dan sinonim yang baik; (2) pemasukan kata baru di dalam tulisan ataupun pembicaraan; (3) usahakan membaca jenis tulisan sebanyak-banyak-nya; (4) pemilihan kata (denotasi-konotasi); (5) pemilihan kata yang konkret dan yang abstrak; (6) pemilihan kata umum dan khusus; dan (7) penggunaan majas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *