Pentas Sastra 2019 Balai Bahasa Sulawesi Utara

Pentas Sastra 2019 Balai Bahasa Sulawesi Utara

Sabtu, 4 Mei 2019, Balai Bahasa Sulawesi Utara kembali menggelar Pentas Sastra 2019. Pementasan drama berjudul “Suara-Suara Mati” adaptasi naskah Manuel Van Loggem ini dilaksanakan di Aula Balai Bahasa Sulawesi Utara. Pementasan tersebut dibawakan oleh Sanggar Rumah Peran Bitung.

Nontje Deisye Wewengkang, M.Pd. membuka Pentas Sastra 2019

Sebelum pementasan dimulai, sastrawan Aldes Sambalao membacakan puisi berjudul “Perempuan yang Tergusur” karya W. S. Rendra. Setelah itu, sastrawan Alfaritz Ken Oroh membacakan puisi berjudul “Matinya Sang Aktor” karya Achi Breyvi Talanggai.

sastrawan Aldes Sambalao membacakan puisi berjudul “Perempuan yang Tergusur”
sastrawan Alfaritz Ken Oroh membacakan puisi berjudul “Matinya Sang Aktor”

Kepala Badan Bahasa Sulawesi Utara, Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum., hadir dan memberikan sambutan dalam acara tersebut. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa Balai Bahasa Sulawesi Utara sangat mengapresiasi geliat sastra yang ada di seluruh Provinsi Sulawesi Utara dan Balai Bahasa Sulawesi Utara siap memberikan wadah sebagai tempat untuk melaksanakan pentas agar sastra tetap berjaya dan bisa tetap digemari oleh generasi muda.


Kepala Badan Bahasa Sulawesi Utara, Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum., memberikan sambutan dalam Pentas Sastra 2019.

“Ini adalah pementasan yang rutin kami adakan tiap tahun. Pada tahun ini kami bekerja sama dengan 7 sanggar yang nantinya dijadwalkan bergantian tampil dalam acara pementasan sastra tersebut,” ujar Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum. “Pementasan sastra malam ini adalah kali kedua untuk tahun ini. Pentas pertama digelar di luar balai bahasa,” imbuhnya.

Penanggung jawab Sanggar Rumah Peran Bitung, Servie Kamagi, mengucapkan terima kasih atas perhatian Balai Bahasa Sulawesi Utara terhadap sanggar sastra yang ada di Sulawesi Utara. “Terima kasih kepada Balai Bahasa Sulawesi Utara yang tetap semangat mengapresiasi dan memberikan wadah bagi kami untuk tampil,” ujar Servie Kamagi.

Penanggung jawab Sanggar Rumah Peran Bitung, Servie Kamagi, menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian Balai Bahasa Sulawesi Utara terhadap sanggar sastra yang ada di Sulawesi Utara

“Tahun lalu kami juga tampil pertama kali di balai bahasa ini, tahun ini juga kami tampil yang pertama di balai bahasa ini, karena kami sudah menganggap Balai Bahasa Sulawesi Utara ini sebagai rumah kita bersama,” imbuh Servie.

Drama “Suara-Suara Mati” yang diperankan oleh Hanung Prabowo, Dea Tobing, Richardo Pangalerang, dan Ricky Tinangon itu berkisah tentang suami dan istri yang selalu saling curiga karena cemburu. Konflik semakin menjadi ketika seorang sahabat datang dan ternyata menaruh perasaan pada sang istri.

pentas drama “Suara-Suara Mati”

Setelah drama tersebut ditampilkan, acara diakhiri dengan ulasan dari penulis kumpulan puisi Solilokui, Achi Breyvi Talanggai. Menurutnya penampilan teater dari Rumah Peran Bitung malam ini sangat bagus, mulai dari aktor dan pencahayaan semuanya bagus. Untuk kejutan-kejutan ceritanya juga sangat tidak tertebak.

penulis kumpulan puisi Solilokui, Achi Breyvi Talanggai menyampaikan ulasannya

“Awalnya saya mengira tadi ada kesalahan, ternyata itu adalah bagian dari kejutan cerita, bagus sekali,” puji Achi. “Untuk penampilan sastra yang diadakan selanjutnya saya harapkan juga akan sebagus ini atau bahkan lebih bagus lagi,” pungkas Achi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *