Balai Bahasa Inginkan UKBI menjadi Syarat Penerimaan CPNS

BORNEONEWS, Palangka Raya – Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menginginkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) menjadi salah satu syarat penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Indonesia. Hal ini diungkapkan Haruddin, Kepala Balai Bahasa Kalteng saat membuka Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Awak Media se-Provinsi Kalimantan Tengah sejak tanggal 7 hingga 9 Maret 2017 di Hotel Fovere Palangka Raya.
“Saat penerimaan CPNS sebenarnya kita berharap ada UKBI. Ini kebijakan Balai Bahasa, tapi seperti yang kita tahu kebijakan bisa kalah dengan kekuasaan,” ungkap Haruddin saat membuka kegiatan.

Untuk mewujudkan harapan ini, lanjut dia, pemegang kekuasaan seharusnya yang mencetuskannya. Bisa Wali Kota atau bisa juga Gubernur, bahkan Presiden.
“Balai Bahasa selama ini hanya bisa mewujudkan ini pada beberapa lembaga. Salah satunya kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia saat akan yudisium dan wisuda, diwajibkan untuk memiliki sertifikat UKBI,” tambahnya.
UKBI berisikan tes terhadap kemampuan mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis dan berbicara. Pengelaannya selalu terpusat serta sertifikat dikeluarkan Badan Bahasa, ditambah penyusunan pedoman pelaksanaan UKBI.

“Masa kita kalau melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ada tes TOEFL tapi untuk UKBI tidak bisa dilaksanakan,” sesalnya. (TESTI PRISCILLA/B-8)

Balai Bahasa Papua Gelar Lomba Mendongeng

Jayapura, – Balai Bahasa Provinsi Papua menggelar lomba mendongeng di Kota Jayapura, 18 – 19 April 2016.

Lomba yang diikuti puluhan peserta itu dalam rangka Pekan Sastra dan pelantikan pengurus Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Ketua panitia lomba, Asmabuassepe mengatakan jumlah peserta kali ini mengalami peningkatan. Dalam kuota ditetapkan 50 peserta, tetapi pendaftar mencapai 78 peserta dan 66 peserta yang hadir hingga pengambilan nomor urut. Menurutnya peserta meningkat karena publikasi yang luas. Sebelumnya hanya melibatkan TK dan SD, tetapi kali ini pegiat sastra juga dilibatkan.

“Tahun lalu hanya 25 peserta,” katanya kepada Jubi dalam keterangan tertulis, Rabu (20/4/2016).

Kreativitas, teknik penyajian, optimalisasi waktu, dan penguasaan panggung merupakan aspek-aspek yang dinilai dalam lomba. Oleh karena itu, diharapkan kemampuan dan kecintaan peserta dalam mendongeng semakin meningkat.

“Dengan kemampuan gurunya mendongeng lebih bagus akan membuat siswa lebih tertarik. Kemudian masyarakat juga ikut tertarik atau ada kecintaan terhadap dongeng,” ujarnya.

Zaman sekarang dongeng jarang diperdengarkan karena kehidupan masyarakat didominasi teknologi informasi. Oleh sebab itu, perlu dihidupkan kembali. Dongeng mampu merekatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

“Waktu kita kecil dulu tidur diantar pakai dongeng. Sekarang tidak tampak lagi karena arena anak-anak cenderung tertarik kepada alat-alat elektronik,” katanya.

Ia pun mengharapkan dalam sepekan diselingi kegiatan mendongeng dalam sekolah. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, terutama menjelang tidur.

Peserta lomba dari Sekolah Menulis Papua, Siti Nurhidayati mengaku senang mengikuti lomba tersebut karena dapat meningkatkan daya saing, terutama yang belum menguasai teknik mendongeng yang benar.

“Ini pertama saya ikut lomba mendongeng meski bukan guru. Lomba mendongeng menjadi pengalaman menarik untuk saya,” katanya. (Timo Marten)

Balai Bahasa ajukan 50 kosa kata baru

 

“Tahun ini tim pendataan kosa kata baru mengajukan sekitar 50 kosa kata yang diadopsi dari bahasa daerah Papua, untuk dimasukkan dalam perbendaharaaan kosa kata bahasa Indonesia,” kata Kasubag TU Balai Bahasa Provinsi Papua Suharyanto.

Jayapura – Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, di Jayapura, mengajukan 50 kosa kata baru untuk didata di Badan Bahasa Pusat, di Jakarta, dan diakui sebagai bagian dari Bahasa Indonesia.

“Tahun ini tim pendataan kosa kata baru mengajukan sekitar 50 kosa kata yang diadopsi dari bahasa daerah Papua, untuk dimasukkan dalam perbendaharaaan kosa kata bahasa Indonesia,” kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Bahasa Provinsi Papua Suharyanto, di Jayapura, Minggu.

Ia mengatakan, tahun sebelumnya tim yang sama mengajukan 90 kosa kata Papua ke Badan Bahasa Pusat untuk diakui sebagai kosakata bahasa Indonesia.

Sebanyak 90 kosa kata yang diajukan pada 2013 itu, semuanya diakui sebagai kosa kata bahasa Indonesia.

“Kosa kata yang diajukan dan sudah diakui sejak 2013, diantaranya Papeda, Tifa, noken dan Honai,” ujarnya.

Menurut Suharyanto, umumnya kosa kata Papua dihimpun dari bidang budaya, kepemimpinan tradisional, bidang makanan dan yang berkitan dengan kearifan lokal di wilayah paling timur Indonesia.

“Kosa kata Papua dari berbagai bidang itu kami kumpulkan lalu ajukan ke Badan Bahasa yang ada di Jakarta untuk dapat dimasukkan menjadi bagian kosa kata Indonesia yang termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” katanya.

Hal itu, kata Suharyanto, dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat warga yang ada di Tanah Papua agar sejajar dengan saudara-saudaranya di wilayah lain.

“Ini upaya untuk mengangkat Papua agar sejajar dengan daerah lain tidak hanya melalui sektor ekonomi, olahraga tapi juga bisa diangkat melalui sektor budaya lebih khusus lagi melalui bahasa,” ujarnya.

Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk mengembangkan bahasa dan sastra yang ada di daerah itu.

“Sudah dua tahun berturut-turut sejak 2013 dan 2014 tim pendataan kosakata berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat orang di Papua melalui bahasa dengan cara mengumpulkan kosa kata Papua,” ujarnya.

Ia mengatakan, tim kosa kata yang dibentuk bertugas mendata kosa kata Papua melalui buku cerita rakyat, dongeng dan buku sejarah bernuansa Papua.

“Buku yang digunakan dari berbagai bidang, ada ekonomi, sosial, budaya dan adat,” ujarnya.

Suharyanto menambahkan, pada KBBI edisi empat Tahun 2008, baru 136 kosa kata Papua yang sudah diakui oleh Badan Bahasa Pusat di Jakarta sebagai kosa kota bahasa Indonesia.  (*)

Puluhan Bahasa Daerah di Maluku Terancam Punah

AMBON, – Provinsi Maluku tak hanya kaya akan seni budaya, namun juga kaya akan ragam bahasa yang menjadi identitas lokal masyarakat setempat. Namun kini, bahasa daerah yang digunakan masyarakat di beberapa daerah di Maluku mulai terancam punah.
Kepala Balai Pelestarian Bahasa Provinsi Maluku M Taha Machsum mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Maluku terindikasi ada puluhan bahasa daerah di Maluku yang kini terancam punah.

“Di Maluku ini bahasa daerah ada dalam lima kondisi yakni berpotensi punah, terancam punah, sangat terancam punah, sekarat dan punah,” ungkap dia saat diwawancarai Kompas.com di sela-sela kegiatan penyegaran Bahasa Indonesia bagi wartawan di Kota Ambon, Senin (21/9/2015).

Dia mengemukakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini, tercatat ada sebanyak 51 bahasa daerah yang masih digunakan di Maluku. Namun kemungkinan jumlah itu masih bisa bertambah mengingat masih ada beberapa daerah yang sedang diamati.

“Kendalanya banyak sekali, terutama generasi muda yang pola komunikasinya sudah banyak bergeser ke Bahasa Indoinesia, dan juga bergeser ke Bahasa Melayu Ambon sehingga bahasa daerah banyak yang hilang dan penuturnya berkurang dan itu lamban laun akan punah,” ungkap dia.

Mastera Gandeng Sastrawan Dorong Penulis Muda Tingkatkan Kreativitas

Cianjur — “Sastrawan itu tidak kalah penting dari insinyur, ekonom, bahkan politikus. Indonesia sudah terlalu lama menafikan kesusastraan, pada masa lalu para sastrawan itu membangun bangsa, dan sekarang ini di Indonesia banyak orang pandai tetapi kurang sensitif,” tutur Ahmad Tohari, sastrawan dan penulis novel yang menjadi pembimbing pada kegiatan Program Penulisan Mastera: Novel di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, Minggu malam, 7 Agustus 2016.

“Melalui sastra, kita bisa membangun perasaan (jiwa), tidak seperti sekarang ini, banyak orang pandai tetapi banyak juga korupsi,” lanjut Ahmad.

Kemudian, ia berpesan, “Jangan pernah merasa “jadi” karena menjadi penulis itu merupakan suatu proses (berproses dalam kepenulisannya) yang tidak pernah merasa “jadi”, sehingga akan terus berkembang,” pesan Ahmad kepada semua peserta yang hadir.

Selanjutnya, Triyanto Triwikromo, penulis yang juga menjadi pembimbing kegiatan ini mengibaratkan bahwa menulis itu sesungguhnya adalah sebuah jalan, dimana setiap jalan memilki keterjalannya masing-masing. Ia juga mengibaratkan menulis novel itu seperti hantu, karena selalu menggoda, “Ketika Anda menulis novel maka perlahan hantu itu akan ikut menghilang, tetapi ketika telah selesai menulis, hantu yang lain akan terlihat dan menggoda anda (penulis) kembali,” ujar Triyanto disambut derai tawa peserta yang hadir.

Abidah El Khailaqy, penulis dan pembimbing lainnya berpesan bahwa menulis tidak hanya untuk sastra dan seni, “Karena menulis juga memilki misi yang banyak dan besar, bahkan bisa menciptakan suatu peradaban,” ujarnya.

Pengarang-pengarang kreatif di negara anggota Mastera khususnya dan di negara-negara Asia Tenggara pada umumnya (penyair, cerpenis, esais, dan penulis naskah drama) tumbuh dan berkembang lebih banyak secara mandiri, tanpa bimbingan mereka (penulis) yang lebih berpengalaman menulis. Namun, dengan hanya membiarkan bakat bertumbuh sendiri, mereka belum tentu akan menghasilkan karya-karya unggulan karena mungkin saja bakat yang sudah ada tidak memperoleh kondisi yang kondusif untuk berkembang. Pengarang-pengarang kreatif tersebut memerlukan sebuah wahana yang secara khusus mampu mengembangkan bakat tersebut sehingga dapat berkembang secara optimal yakni bengkel penulisan. Wahana tersebut akan memberikan kesempatan bagi pengarang-pengarang kreatif untuk saling mengoreksi kekurangan mereka, juga bertukar pengalaman tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penulisan kreatif.

Berdasarkan asumsi tersebut, Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand sebagai negara anggota Mastera menyadari pentingnya penyelenggaraan bengkel penulisan kreatif yang kemudian berubah namanya menjadi Program Penulisan Mastera dicetuskan sejak tahun 1997. Genre karya pada program penulisan ini bergilir dengan urutan puisi, cerpen, esai, dan drama. Program Penulisan Mastera yang telah dilaksanakan dengan genre puisi (1997, 2002, 2007, dan 2012), genre cerpen (1998, 2003, 2008, dan 2013), genre esai (1999,2004,2009, dan 2014), genre drama (2000, 2005, 2010, dan 2015), dan genre novel (2001, 2006, dan 2011). Pada tahun 2016 diselenggarakan Program Penulisan Mastera dengan genre novel.

Kegiatan yang berlangsung selama seminggu (7—13 Agustus 2016) ini, bertujuan memberikan kesempatan kepada novelis-novelis muda negara anggota untuk memperluas wawasan dan kemampuan teknis penulisannya, dengan bertukar pengalaman kreatif sesama peserta dan dengan novelis-novelis senior.

Melalui kegiatan tersebut, novelis muda diharapkan jadi lebih mengenal situasi penulisan novel di negara masing-masing, mengambil manfaat dari pandangan dan kritik sesama novelis muda, juga menjadi wadah untuk menyerap pengalaman kreatif, baik dari novelis senior maupun dari sesama novelis muda untuk novel-novel yang akan ditulisnya. (an)

Festival Revitalisasi Sastra Berbasis Komunitas Vaino: Lestarikan Sastra Daerah dan Pertahankan Kearifan Lokal

Palu — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palu dan Pemerintah Kabupaten Sigi menyelenggarakan Festival Revitalisasi Sastra Berbasis Komunitas Vaino di Museum Provinsi Sulawesi Tengah, Palu, Jumat, 5 Agustus 2016.

Vaino adalah salah satu jenis pertunjukan rakyat yang telah ada sejak petengahan abad ke-17, setelah masuknya agama Islam di negeri ini. Vaino berasal dari kata Vae yang berarti melantunkan dan kata Ino yang berarti bersahutan secara syahdu, secara terminologi Vaino berarti melantunkan kata-kata berpantun secara syahdu dengan bersahut-sahutan antara dua kelompok atau lelaki dan wanita. Vaino biasa dipertunjukkan pada pesta perkawinan, pesta syukuran bahkan pada saat acara kedukaan, sebagai hiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi putra dan putri. Vaino dijadikan sebagai sarana komunikasi untuk menyatakan berbagai ungkapan perasaan hati yang syahdu bagi rakyat.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim menuturkan bahwa terkait kegiatan ini, Badan Bahasa telah melaksanakan dua program penting yaitu merevitalisasi bahasa dan merevitalisasi sastra. “Terselenggaranya festival ini sebagai cara awal Badan Bahasa memperkenalkan kembali Vaino kepada publiknya sendiri yaitu masyarakat Sulawesi Tengah,” ungkap Gufran.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu, Dra. Rosdiana Lalusu, menyampaikan bahwa sastra merupakan pencerminan situasi kondisi dan adat istiadat suatu masyarakat. “Perkembangan dan pertumbuhan sastra di suatu masyarakat merupakan gambaran perkembangan dan pertumbuhan bahasa dan budaya masyarakat tersebut, “ ujarnya.

Festival Revitalisasi Sastra ini menampilkan Vaino versi Porame dan Tavanjuka, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi. Festival ini dihadiri oleh siswa, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati dan komunitas pelaku sastra, dan berbagai organisasi kemasyarakatan di kota palu, serta  para staf Balai Bahasa Sulawesi Tengah.

 “Festival Revitalisasi sastra ini bagus sekali untuk dilaksanakan karena dapat memberikan pengetahuan kepada para generasi muda di Sulawesi Tengah, dan kesenian Sulawesi Tengah itu sendiri harus dilestarikan. Selain itu, pelaksanaan festival ini juga dapat menambah wawasan karena kita sebelumnya tidak mengetahui apa itu Vaino, namun berkat kegiatan ini kita menjadi tahu apa  itu Vaino dan bagaimana  melakukan Vaino itu sendiri,” tutur Intan Faramita, Mahasiswi Universitas Tadulako Palu setelah mengikuti festival ini.  Songgo mpoasi terima kasih. (jm/an)

 

Kongres Bahasa Daerah Nusantara I: Peranan Bahasa Daerah Nusantara dalam Mengokohkan Jati Diri Bangsa

Bandung – Kita harus melestarikan bahasa daerah, jangan sampai jumlah bahasa daerah yang terancam punah bertambah karena tidak ada lagi generasi muda yang mau memakai bahasa daerah. Hal itu, disampaikan Dedi Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat, saat membuka Kongres Bahasa Daerah Nusantara I yang diselenggarakan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika No. 65, Bandung, Selasa, 2 Agustus 2016.

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar mengingatkan kembali amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, khususnya Pasal 42. Kekhawatiran Wagub Dedi Mizwar tentang semakin sedikitnya generasi muda berbahasa daerah dijelaskan oleh Dadang bahwa berdasarkan Undang-Undang itu, pemerintah daerah diamanati untuk mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dalam kaitan dengan itu, “Badan Bahasa yang mempunyai Unit Pelaksana Teknis di 30 provinsi selama ini bekerja sama dengan pemerintah daerah sudah berupaya menjalankan amanat Undang-Undang tersebut, antara lain, dengan menyusun berbagai kamus bahasa daerah dan pendampingan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, “ ujar Dadang.

Pembicara yang tampil pada kongres itu, antara lain, Dadang Sunendar, Ajip Rosidi, Remy Sylado, Multamia RMT Lauder, Mahsun MS, Alice Eastwood, Emi Emilia, M. Rapitang, Antonia Soriente, Gufran Ali Ibrahim, Yus Rusyana, dan C.W. Watson.

Kongres yang dilangsungkan selama tiga hari itu, Selasa—Kamis (2—4 Agustus 2016) didukung juga oleh Balai Bahasa Jawa Barat. Tema yang diusung adalah “Peranan Bahasa Daerah Nusantara dalam Mengokohkan Jati Diri Bangsa” dan peserta yang terlibat dalam perhelatan ini terdiri atas para pakar, seniman, mahasiswa, guru, wartawan, pemuda, birokrat dan pemerhati bahasa daerah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. (iw/td)

 

Uji Keterbacaan UKBI: Upaya Meningkatkan Kompetensi Pemahaman Pedoman UKBI

Jakarta — Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) merupakan salah satu program unggulan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Terkait dengan hal itu, Pusat Pengembangan dan Pelindungan (Pusbanglin), Badan Bahasa menyelenggarakan kegiatan Uji Keterbacaan UKBI pada tanggal 6—13 Agustus 2016 di kantor Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keterbacaan atau pemahaman publik atas Pedoman UKBI.

UKBI merupakan tes standar untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia penutur bahasa Indonesia baik penutur jati maupun asing yang dilakukan secara lisan dan tertulis. Pengujian UKBI terdiri dari lima sesi, yaitu tes mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Guna melaksanakan pengujian UKBI, perlu disusun pedoman UKBI yang memiliki hasil uji tingkat keterbacaan yang tinggi. Oleh karena itu, “Uji Keterbacaan UKBI penting dilakukan, karena ketika satu naskah disampaikan ke publik atau masyarakat, naskah tersebut harus bermanfaat dan sesuai dengan tujuannya terutama naskah-naskah yang berkaitan dengan pembelajaran atau pengujian,” ujar Atikah Solihah, M.Pd., Kepala Subbidang Proses Pembelajaran, Bidang Pengembangan, Pusbanglin, Kamis, 11 Agustus 2016.

“Sasaran utama Uji Keterbacaan UKBI adalah guru, mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dosen, dan para pekerja profesional. Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Bahasa mengundang 150 orang dari kalangan guru (SD, SMP, SMA), mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Indonesia, dan dosen untuk menjadi peserta kegiatan Uji Keterbacaan UKBI dengan pembagian 25 orang peserta setiap harinya selama enam hari,” ungkap Atikah.

Selanjutnya, Atikah juga mengatakan bahwa penilaian Uji Keterbacaan UKBI dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat keterbacaan rendah, jika nilainya 20%. Tingkat keterbacaan sedang, jika nilainya 20—70%, dan >70% tergolong tingkat keterbacaan tinggi. Penilaian Uji Keterbacaan UKBI pun didasarkan pada hasil penghitungan metode Uji Rumpang dan Uji Deskriptif dengan Skala Likert.

“Jadi, dengan menggunakan dua metode ini, akan didapatkan gambaran keterbacaan yang lebih utuh dari naskah Pedoman UKBI yang sudah disusun,” harap Atikah.

Contoh metode Uji Rumpang, jika ada tujuh bab dalam suatu naskah, maka akan diambil satu bagian dari setiap bab untuk dirumpangkan atau dikosongkan, dan peserta diminta mengisi bagian kosong tersebut dengan kata yang benar. Sedangkan metode Uji Deskriptif dengan Skala Likert, contohnya, jika ada sepuluh butir soal diberikan pilihan A, B, C, dan D, peserta diminta untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut dan menjelaskan mengapa mereka memilihnya. (pad)

 

Badan Bahasa Gelar Bimbingan Teknis Kebahasaan bagi Insan Media Massa

Jakarta—Dalam rangka meningkatkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Kebahasaan bagi Insan Media Massa. Seperti di tahun sebelumnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi insan media untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam berbahasa Indonesia secara baik dan benar, serta dapat menggunakan bahasa Indonesia secara cermat, apik, dan santun.

Kegiatan penyegaran keterampilan berbahasa Indonesia bagi insan media massa itu dilaksanakan selama tiga hari,  tanggal 10—12 Agustus 2016  di Hotel Park, Cawang, Jakarta Timur.

Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Imbrahim, M.S. mewakili Kepala Badan Bahasa, membuka acara tersebut. Dalam materi sajiannya, Gufron menjelaskan bahwa media massa merupakan salah satu dari sekian banyak mitra yang turut membantu pengembangan dan pembinaan bahasa. “Badan Bahasa bersama mitra (media massa) bergiat bersama-sama memartabatkan bahasa kita” kata Gufran.

Menurut Gufran, fungsi bahasa Indonesia sangatlah penting karena menjadi alat pemersatu atau juga merupakan perekat bangsa. “kita dikaitkan dengan satu bahasa, alat penting yang lebih penting lagi membuat kita merasa sebagai bangsa Indonesia dengan ribuan etnik” ucapnya.

Pada saat itu, Gufran juga menyebutkan moto dari Pusat Pembinaan, Badan Bahasa, yaitu “Cermat, Apik, dan Santun Berbahasa” atau yang disingkat menjadi CAS. “ada dua misi penting yaitu meningkatkan dan mengembangkan, memastikan kecermatan, memastikan keapikan, memastikan kesantunan terjaga” tegasnya

Sementara itu, dalam laporan ketua penyelenggara yaitu Drs. Mustakim, M.Hum., Kepala Bidang Pemasyarakatan mengatakan bahwa salah satu tujuan utama dari penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan mutu bahasa para insan media massa. “bahasa media massa sering dijakdikan rujukan masyarakat, tentu mutu bahasa yang digunakan harus benar-benar layak untuk dirujuk. Untuk itulah, media massa menjadi sasaran prioritas dalam meningkatkan mutu bahasa” jelas Mustakim.

Berkaitan dengan hal tersebut, Mustakim juga menegaskan bahwa media massa memiliki peran yang sangat penting proses mengembangkan dan membina bahasa Indonesia, sehingga Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa melalui Pusat Pembinaan, telah mengadakan kegiatan bimbingan teknis semacam itu pada lima tahun terakhir secara terus-menerus. “Selanjutnya dilaporkan kepada Bapak bahwa, kegiatan Penyegaran Berbahasa bagi Insan Media Massa sudah tahun ke lima dilakukan secara terus-menerus” ujar Mustakim.

Pada sesi akhir, Gufran kembali menegaskan bahwa status para insan media massa di mata Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa adalah sebagai mitra yang turut membantu dalam melakukan pengembangan  dan pembinaan bahasa. “Menurut hemat kami, sebenarnya teman-teman di media massa-lah yang sebagai pemulia-pemulia bahasa Indonesia” tutur Gufron.

Kegiatan itu menghadirkan tujuh orang narasumber, antara lain, (1) Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), (2) Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S. (Kepala Pusat Pembinaan), (3) Drs. Mustakim, M. Hum. (Kepala Bidang Pemasyarakatan), (4) Dra. Meity Takdir Qodratillah, M.Hum. (Penyuluh Kebahasaan), (5) Drs. S.S.T. Wisnu Sasangka, M.Pd. (Peneliti Bahasa), (6) Drs. Suladi, M.Pd. (Kepala Subbidang Penyuluhan), (7) Willy Pramudya (Praktisi Media Massa, AJI). Sementara itu, peserta kegiatan itu berjumlah 50 orang yang terdiri atas redaktur, wartawan, dan editor dari berbagai media massa cetak. (ema/nav)

 

Daftar Bandar Togel Slot Online Terpercaya 2022

togel online

bandar togel

situs togel online

10 Daftar Situs Slot Terpercaya Dijamin VIP

online togel

judi togel online

situs slot online

slot online

togel terpercaya di batam

heromedia

Togel Online Terlengkap dan Terpercaya 2022

togel online

online togel

www togel online com

togel online terpercaya

daftar togel online terpercaya

daftar togel online